JAKARTA – Pernah melihat orang menguap lalu beberapa detik kemudian ikut menguap? Fenomena tersebut bukan sekadar kebetulan. Dalam ilmu perilaku, kondisi ketika seseorang menguap setelah melihat, mendengar, atau bahkan memikirkan orang lain menguap dikenal sebagai contagious yawning atau menguap menular.
Fenomena ini telah lama diteliti dan melibatkan respons otak terhadap isyarat sosial. Namun, para peneliti masih terus mempelajari mekanisme pasti yang membuat seseorang lebih mudah ikut menguap.
Otak Merespons Saat Melihat Orang Menguap
Penelitian menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI) menunjukkan adanya aktivitas pada sejumlah area otak ketika seseorang melihat orang lain menguap.
Salah satu penelitian yang diterbitkan di jurnal NeuroImage pada 2005 menemukan peningkatan aktivitas pada bagian superior temporal sulcus (STS), wilayah otak yang berkaitan dengan pemrosesan isyarat sosial. Peneliti menyebut respons tersebut lebih menyerupai perilaku yang muncul secara otomatis dibandingkan tindakan meniru gerakan secara sadar.
Artinya, ketika melihat seseorang menguap, otak dapat menangkap gerakan tersebut sebagai sebuah isyarat dan memicu respons yang sama tanpa harus memutuskan secara sadar untuk ikut menguap.
Bukan Cuma Melihat, Mendengar Juga Bisa
Menguap menular tidak selalu terjadi karena melihat wajah orang lain.
Sebuah penelitian yang menggunakan pemindaian fMRI menemukan bahwa suara orang menguap juga dapat meningkatkan respons otak yang berkaitan dengan fenomena tersebut. Aktivitas terlihat antara lain pada bagian inferior frontal gyrus kanan, salah satu wilayah yang terlibat dalam pemrosesan perilaku dan respons sosial.
Karena itu, seseorang bisa saja tiba-tiba ingin menguap hanya setelah mendengar orang lain menguap.
Apakah Berarti Kita Punya Empati Tinggi?
Bagian ini masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti.
Sejumlah penelitian memang menemukan hubungan antara contagious yawning dan empati. Salah satu studi yang melibatkan 504 mahasiswa dalam dua penelitian laboratorium menemukan bahwa peserta yang ikut menguap ketika melihat orang lain menguap memiliki nilai empati yang lebih tinggi dalam pengukuran penelitian tersebut.
Namun, tinjauan penelitian pada 2017 menyimpulkan bahwa bukti mengenai hubungan langsung antara menguap menular dan empati masih tidak konsisten. Faktor seperti perhatian seseorang terhadap stimulus dan kecenderungan menahan respons sosial juga dapat memengaruhi hasil penelitian.
Jadi, ikut menguap saat melihat orang lain menguap tidak bisa dijadikan ukuran pasti bahwa seseorang lebih berempati.
Orang yang Dekat Lebih Mudah Menularkan?
Hubungan sosial juga pernah dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya contagious yawning.
Penelitian yang dipublikasikan pada 2011 menemukan bahwa respons menguap menular lebih sering terjadi ketika seseorang melihat anggota keluarga atau teman menguap dibandingkan ketika melihat orang yang tidak dikenal. Para peneliti mengaitkan temuan tersebut dengan kedekatan emosional antarindividu.
Namun, hasil penelitian mengenai pengaruh kedekatan sosial tidak selalu seragam. Karena itu, hubungan antara kedekatan sosial, empati dan menguap menular masih menjadi topik penelitian.
Kenapa Ada yang Gampang Ketularan, Ada yang Tidak?
Tidak semua orang memiliki tingkat kepekaan yang sama terhadap menguap menular.
Penelitian terhadap variasi individu menemukan bahwa kecenderungan seseorang untuk ikut menguap relatif stabil pada individu tertentu, tetapi sebagian besar perbedaan tersebut belum dapat dijelaskan hanya melalui empati atau faktor-faktor lain yang sudah diketahui.
Perhatian juga dapat memainkan peran. Jika seseorang tidak benar-benar memperhatikan wajah atau gerakan orang yang menguap, kemungkinan munculnya respons menular dapat berbeda.
Jadi, kalau lu ikut menguap setelah melihat teman, pasangan, atau orang di sebelah menguap, itu merupakan fenomena perilaku yang memang telah diamati dalam penelitian.
Meski mekanisme lengkapnya belum sepenuhnya dipahami, penelitian menunjukkan bahwa respons tersebut berkaitan dengan cara otak memproses isyarat sosial dan dapat muncul secara otomatis. Sementara anggapan bahwa orang yang mudah tertular menguap pasti memiliki empati lebih tinggi masih membutuhkan bukti ilmiah yang lebih kuat.