JAKARTA – Como 1907 akhirnya merasakan kekalahan pertama di Serie A 2026/2027.
Tim asuhan Cesc Fabregas takluk 0-2 dari Frosinone pada giornata kelima di Stadio Benito Stirpe, Minggu (20/9/2026).
Dua gol Frosinone dicetak Giacomo Calo pada menit ke-14 dan Giorgi Kvernadze pada menit ke-48.
Hasil tersebut membuat Frosinone melanjutkan start positifnya di Serie A, sementara Como harus menerima kekalahan perdana setelah mengawali musim tanpa kekalahan.
Como Dominan Penguasaan Bola, tapi Frosinone Lebih Efektif
Menariknya, Como sebenarnya lebih dominan dalam penguasaan bola.
Berdasarkan data pertandingan, Como mencatat 64,9 persen penguasaan bola berbanding 35,1 persen milik Frosinone.
Como juga lebih unggul dalam jumlah operan akurat. Tim Fabregas mencatat 430 umpan sukses dengan akurasi 86,3 persen, sedangkan Frosinone hanya menghasilkan 188 umpan akurat dengan tingkat keberhasilan 72,3 persen.
Namun, dominasi tersebut tidak berbanding lurus dengan hasil akhir.
Como memang melepaskan 27 tembakan dan delapan di antaranya tepat sasaran. Frosinone justru hanya membuat 22 tembakan dengan enam mengarah ke gawang.
Perbedaannya terletak pada efektivitas. Frosinone mampu mencetak dua gol dari permainan yang lebih langsung, sedangkan Como kesulitan mengubah penguasaan bola menjadi peluang yang benar-benar menentukan.
Frosinone Manfaatkan Transisi dengan Baik
Dari sisi gameplay, Frosinone tidak berusaha memenangkan pertandingan lewat penguasaan bola.
Tim Massimiliano Alvini lebih banyak membiarkan Como menguasai bola kemudian mencari kesempatan ketika lawan kehilangan struktur.
Strategi tersebut terlihat sejak gol pertama. Frosinone membuka keunggulan pada menit ke-14 melalui Giacomo Calo setelah menerima umpan dari Romano Schmid.
Gol kedua datang tidak lama setelah babak kedua dimulai. Giorgi Kvernadze menggandakan keunggulan pada menit ke-48.
Dua gol tersebut membuat Frosinone mampu bermain dengan keunggulan skor sambil mempertahankan pendekatan yang lebih reaktif dan langsung.
Laporan pertandingan Gazzetta dello Sport juga menyoroti permainan Frosinone yang agresif, cepat dalam melakukan tekanan, serta mampu menghadapi Como secara terbuka.
Schmid menjadi salah satu pemain penting karena memberikan dua umpan yang berujung pada gol Frosinone.
Palmisani Jadi Tembok di Gawang Frosinone
Kegagalan Como mencetak gol juga tidak terlepas dari penampilan Lorenzo Palmisani.
Como menghasilkan delapan tembakan tepat sasaran, tetapi tidak satu pun berhasil melewati penjaga gawang Frosinone tersebut.
Palmisani disebut melakukan sejumlah penyelamatan penting untuk mempertahankan keunggulan tuan rumah.
Situasi ini membuat pertandingan menjadi contoh bahwa penguasaan bola dan jumlah tembakan tidak selalu menentukan hasil pertandingan.
Como memiliki bola lebih banyak dan melepaskan lima tembakan lebih banyak daripada Frosinone, tetapi lawannya lebih efektif dalam memanfaatkan momen penting.
Fabregas Coba Ubah Permainan
Cesc Fabregas mencoba mengubah jalannya pertandingan dengan melakukan tiga pergantian pemain sekaligus saat babak kedua dimulai.
Da Cunha, Baturina, dan Douvikas ditarik keluar, kemudian digantikan Ricci, Jesus Rodriguez, dan Moise Kean.
Perubahan tersebut menunjukkan upaya Como untuk meningkatkan daya gedor setelah tertinggal dua gol. Namun, Frosinone mampu mempertahankan keunggulannya hingga pertandingan berakhir.
Como bahkan tetap unggul dalam jumlah penguasaan bola dan tembakan setelah perubahan tersebut, tetapi pertahanan Frosinone mampu bertahan dari tekanan.
Kekalahan Pertama Como
Kekalahan 0-2 ini menjadi hasil yang cukup kontras dengan performa Como pada awal musim. Sebelum pertandingan, Como belum terkalahkan dan mengoleksi 10 poin dari empat laga.
Kekalahan tersebut membuat Como tetap mengantongi 10 poin dari lima pertandingan dan turun ke posisi kedelapan, sedangkan Frosinone juga mengoleksi 10 poin dan berada di posisi keenam karena keunggulan posisi klasemen.
Hasil di Benito Stirpe menunjukkan satu hal penting dari permainan Como: dominasi bola belum tentu cukup untuk memenangkan pertandingan.
Frosinone mampu meredam sirkulasi bola Como, memanfaatkan transisi dengan lebih efektif, kemudian mengandalkan pertahanan dan penyelamatan Palmisani untuk mempertahankan keunggulan hingga akhir.***