JAKARTA – Pemerintah mencatat kemajuan signifikan dalam program digitalisasi pembelajaran, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari, menyampaikan bahwa selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, distribusi perangkat dan pemanfaatan teknologi pendidikan semakin meluas.
Hingga 2025, sebanyak 288.865 sekolah telah menerima Papan Interaktif Digital (PID) beserta perangkat pendukung seperti laptop dan hard disk. Selain itu, 8.265 sekolah memperoleh dukungan internet, 2.389 sekolah mendapat bantuan listrik, 33.156 guru dilatih, dan 2.856 konten digital dikembangkan. Evaluasi menunjukkan 99,5 persen siswa merasa pembelajaran lebih menarik, sementara 98 persen mengaku lebih memahami materi.
Di wilayah 3T, program ini menjangkau 13.838 sekolah di berbagai jenjang, tersebar di Maluku, NTB, NTT, Papua, Sulawesi Tengah, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Lampung. Bantuan mencakup dukungan listrik senilai Rp145,5 juta, layanan internet Rp44,6 miliar, serta 30.285 unit laptop dan hard disk senilai Rp202,8 miliar.
Meski demikian, Qodari mengakui tantangan masih ada, terutama keterbatasan listrik, internet, akses geografis, dan kesiapan SDM guru. Karena itu, arah kebijakan 2026 tidak hanya menambah perangkat PID, tetapi juga memperkuat infrastruktur listrik dan internet, meningkatkan pelatihan guru, mengembangkan konten digital, serta mengintegrasikan platform Rumah Pendidikan dan LMS.
Langkah ini diharapkan memperkuat ekosistem pembelajaran digital yang inklusif, modern, dan merata hingga ke pelosok negeri.