NEW YORK – Ratusan narapidana di Penjara Rikers Island, New York, mendapat kesempatan menyaksikan semifinal Piala Dunia 2026 bersama.
Program tersebut diberikan kepada penghuni yang menjaga perilaku baik tanpa pelanggaran sedikitnya selama 30 hari terakhir.
Lebih dari 100 napi berseragam cokelat muda memenuhi aula olahraga yang diubah menjadi lokasi nonton bareng.
Layar proyektor berukuran besar menayangkan duel sengit Argentina melawan Inggris di hadapan para peserta.
Suasana semakin semarak ketika Argentina membalikkan keadaan dan menang dramatis 2-1 atas Inggris.
Kemenangan itu mengantar juara bertahan melaju ke partai final menghadapi Spanyol pada akhir pekan.
Kegiatan nobar menjadi bagian dari program pembinaan yang telah berlangsung sejak turnamen dimulai bulan lalu.
Pihak pengelola berharap kegiatan positif tersebut mampu meningkatkan motivasi narapidana menjaga disiplin.
Pelaksanaan acara berlangsung di tengah sorotan tajam terhadap kondisi Rikers Island dalam beberapa tahun terakhir.
Kompleks penjara itu masih menghadapi berbagai persoalan yang menjadi perhatian pemerintah federal Amerika Serikat.
Seorang hakim federal bahkan menunjuk pejabat khusus untuk mengawasi proses perbaikan sistem di fasilitas tersebut.
Sehari sebelum nobar berlangsung, pejabat tersebut menyerahkan rencana reformasi yang menggambarkan berbagai masalah serius.
Laporan itu mengungkap adanya blok tahanan dipenuhi asap akibat kebakaran yang sengaja dibuat sejumlah narapidana.
Dokumen tersebut juga mencatat alarm berbunyi tanpa henti sementara penghuni memukul pintu sel mereka.
Insiden lain memperlihatkan sejumlah tahanan saling bentrok setelah seorang petugas meninggalkan pos pengawasan.

Wali Kota Zohran Mamdani
Di tengah situasi itu, Wali Kota New York Zohran Mamdani hadir langsung sebelum pertandingan dimulai.
Politikus Partai Demokrat tersebut menyapa para napi dan berbincang mengenai jalannya Piala Dunia.
Seorang narapidana memprediksi Argentina akan menyingkirkan Inggris dan bertemu Spanyol di partai puncak.
“Anda tidak pernah tahu,” kata Mamdani yang mengaku mendukung Maroko.
Di meja lain, seorang narapidana mengatakan dirinya akan bebas pada hari yang sama.
“Luar biasa,” ujar Mamdani sambil menjabat tangan dan menepuk punggung narapidana tersebut.
Sorak sorai memenuhi ruangan ketika Inggris lebih dahulu membuka keunggulan pada babak kedua.
Pendukung Inggris bersorak, sedangkan penggemar Argentina tampak terdiam menanti respons tim favorit mereka.
Ralph Veal menjadi sedikit napi yang mendukung Inggris selama pertandingan berlangsung.
Pria berusia 53 tahun itu mengaku memilih Inggris karena merupakan tim kesayangan putranya yang berusia 20 tahun.
“Suasananya sangat menyenangkan, saya duduk bersama pendukung Argentina dan semuanya baik-baik saja,” ujar Veal.
“Kami menikmati pertandingan ini dan energi di ruangan ini sangat positif,” lanjutnya.
Argentina akhirnya mencetak gol kemenangan pada masa tambahan waktu sehingga membalikkan keadaan menjadi 2-1.
Pendukung Albiceleste langsung berdiri, berpelukan, bertepuk tangan, serta memukul meja merayakan kemenangan.
Victor Caldas menjadi salah satu pendukung Argentina yang paling antusias merayakan hasil tersebut.
Pria 39 tahun itu mengalihkan dukungan kepada Argentina setelah Ekuador tersingkir dari turnamen.
Ia mengaku bersyukur dapat menyaksikan pertandingan tanpa gangguan bersama sesama pecinta sepak bola.
“Saya memberikan yang terbaik agar bisa memperoleh kesempatan singkat ini dan menikmati momen tersebut,” kata Caldas.
“Ini seharusnya menjadi semacam hadiah atas perilaku baik,” tambahnya.
Program nobar tersebut memperlihatkan pendekatan pembinaan berbasis penghargaan bagi narapidana yang mematuhi aturan.
Meski demikian, berbagai tantangan mengenai keamanan dan pengelolaan Rikers Island masih menjadi pekerjaan besar bagi otoritas New York.***