JAKARTA – Argentina memastikan tiket ke final Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Inggris dengan skor 2-1 dalam laga semifinal yang berlangsung sengit.
Kemenangan tersebut justru memunculkan kontroversi karena sejumlah pemain Argentina membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas”.
Tulisan itu berarti “Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina” dan berkaitan dengan sengketa wilayah Falklands yang telah berlangsung puluhan tahun.
Mengutip laporan Football365, aksi tersebut menjadi perhatian karena FIFA melarang pemain maupun tim menyampaikan pesan bermuatan politik saat pertandingan resmi.
Jika dinilai melanggar aturan, Argentina berpotensi menerima sanksi berupa denda sekitar Rp666 juta sesuai preseden kasus serupa.
Pertemuan Argentina dan Inggris memang selalu sarat gengsi karena dipengaruhi rivalitas panjang di dalam maupun di luar lapangan.
Sejak peluit awal dibunyikan, duel berlangsung keras dengan tensi tinggi dan sejumlah benturan antarpemain tak terhindarkan.
Inggris sempat menguasai jalannya pertandingan dan membuka keunggulan pada menit ke-55 melalui Anthony Gordon.
Gol tersebut tercipta setelah Anthony Gordon menyelesaikan umpan silang Morgan Rogers dengan penyelesaian akurat.
Keunggulan itu dinilai pantas berdasarkan dominasi permainan Inggris sepanjang sebagian besar pertandingan.
Namun tim asuhan Thomas Tuchel memilih bermain lebih bertahan setelah unggul sehingga memberi ruang bagi Argentina.
Perubahan pendekatan itu dimanfaatkan Argentina untuk meningkatkan tekanan hingga pertahanan Inggris mulai goyah.
Enzo Fernandez menyamakan skor lewat tendangan jarak jauh yang gagal dihentikan penjaga gawang Inggris.
Momentum kemudian berbalik sepenuhnya ke kubu Argentina setelah gol penyeimbang tersebut.
Lautaro Martinez memastikan kemenangan Argentina melalui sundulan pada menit-menit akhir pertandingan.
Skor 2-1 bertahan hingga peluit panjang berbunyi dan membawa juara bertahan itu melangkah ke partai final.
Ketegangan masih berlanjut setelah laga usai ketika pemain kedua tim terlibat adu argumen di lapangan.
Di tengah suasana panas itulah beberapa pemain Argentina mengangkat spanduk bertema Malvinas.
Aksi tersebut langsung memicu perdebatan karena dianggap membawa isu politik ke dalam ajang olahraga internasional.
Sengketa Kepulauan Falklands atau Malvinas memuncak pada perang tahun 1982 antara Inggris dan Argentina.
Konflik tersebut menewaskan 255 personel militer Inggris dan 649 personel militer Argentina.
Gelandang Argentina Rodrigo De Paul sebelumnya mengakui laga melawan Inggris memiliki makna lebih dari sekadar sepak bola.
“Kami memahami ini adalah pertandingan sepak bola yang memiliki makna lebih besar karena mengingatkan kami pada apa yang dilakukan Diego.”
“Kami menyanyikan lagu tentang para pahlawan Malvinas untuk mengenang mereka.”
“Namun kami juga harus memahami bahwa ini tetap pertandingan sepak bola dan persoalan Malvinas seharusnya dibahas di tempat lain.”
“Apa yang terjadi dahulu adalah sebuah tragedi dan kami selalu mengenang mereka yang gugur.”
“Namun tujuan kami sekarang adalah memenangkan pertandingan ini agar bisa mencapai final.”
Pelatih Argentina Lionel Scaloni memuji perjuangan anak asuhnya setelah memastikan tempat di partai puncak.
“Kami benar-benar tim yang istimewa dan itu bukan bentuk kesombongan.”
“Dari lubuk hati terdalam, para pemain inilah yang membawa kami menuju kemenangan.”
“Saya benar-benar kehabisan kata-kata dan ini menjadi kebahagiaan besar bagi negara serta seluruh rakyat kami.”
Kapten Inggris Harry Kane mengaku sangat kecewa karena gagal mempertahankan keunggulan hingga akhir laga.
“Saya sangat kecewa untuk para pemain, tim pelatih, dan seluruh pendukung kami.”
“Sebagian besar pertandingan kami bermain sangat baik.”
“Namun setelah unggul 1-0 kami justru hanya berusaha mempertahankan keunggulan.”
“Di level seperti ini, itu saja tidak cukup.”
“Kami bekerja sangat keras untuk berada di sini dan semua pemain telah memberikan segalanya.”
“Karena itu kegagalan seperti hari ini terasa sangat menyakitkan.”
Thomas Tuchel tetap memberikan apresiasi kepada para pemain meski harus mengubur impian tampil di final.
“Tim memberikan segalanya dan kami benar-benar sangat dekat.”
“Performa tim sangat baik, tetapi kami gagal menyelesaikan pertandingan dengan kemenangan.”
“Saat ini saya tidak memiliki penyesalan.”***