JAKARTA – Legenda sepak bola Kamerun Samuel Eto’o kembali menjadi sorotan setelah muncul dugaan persoalan pengelolaan dana pertandingan internasional.
Eto’o kini menjabat sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Kamerun atau Fecafoot sejak terpilih pada Desember 2021.
Sorotan terbaru berkaitan dengan dana pertandingan persahabatan Kamerun melawan Rusia pada Oktober 2023.
Menurut laporan The Times, dana tersebut mencapai lebih dari 500 ribu euro atau sekitar Rp10,2 miliar.
Dokumen yang ditinjau media tersebut menunjukkan pembayaran dilakukan melalui dua transaksi berbeda.
Nilai transaksinya disebut mencapai 455.056 euro dan 112.514 euro atau total sekitar 567.570 euro.
Jika menggunakan kurs sekitar Rp20.438 per euro, total tersebut setara kurang lebih Rp11,6 miliar.
Dana itu dilaporkan masuk ke rekening pribadi Eto’o di Qatar National Bank yang berada di Doha.
Mantan pejabat Fecafoot mempertanyakan keberadaan dana tersebut karena belum menemukan bukti pengalihan ke rekening resmi federasi.
Mantan anggota komite eksekutif Fecafoot Guibai Gatama menjadi salah satu pihak yang mempertanyakan transaksi tersebut.
Ia menyatakan belum menemukan bukti perbankan maupun pembukuan yang menunjukkan dana itu masuk ke rekening resmi Fecafoot.
Gatama dan sejumlah mantan pejabat kemudian mengajukan pengaduan kepada komite etik FIFA lebih dari setahun lalu.
Namun, mereka mengaku belum memperoleh perkembangan berarti terkait laporan yang telah disampaikan tersebut.
Kondisi itu kemudian memunculkan tudingan bahwa FIFA tidak cukup serius menindaklanjuti dugaan persoalan tersebut.
Para pengkritik juga mengaitkan situasi tersebut dengan kedekatan Eto’o dan Presiden FIFA Gianni Infantino.
Gatama menilai sikap FIFA dapat dipersepsikan sebagai bentuk dukungan politik dan kelembagaan terhadap Eto’o.
Ia juga menyoroti dukungan FIFA terhadap sejumlah program yang berkaitan dengan federasi sepak bola Kamerun.
Di sisi lain, FIFA membantah bahwa hubungan pribadi Infantino dengan Eto’o memengaruhi proses pemeriksaan etik.
Juru bicara FIFA menegaskan bahwa badan yudisial FIFA memiliki independensi dan tidak berada di bawah pengaruh presiden organisasi tersebut.
FIFA juga menyatakan siap menerima pengawasan yang sah, tetapi menolak tuduhan yang dinilai belum terbukti.
Sorotan terhadap Eto’o tidak hanya muncul dari persoalan dana pertandingan melawan Rusia.
Pada 2025, muncul pula laporan mengenai dugaan hilangnya bayaran pertandingan senilai 600 ribu dolar AS dari laga Kamerun kontra Meksiko.
Dengan kurs sekitar Rp17.604 per dolar AS, angka tersebut setara sekitar Rp10,56 miliar.
Pertandingan Kamerun melawan Meksiko itu berlangsung di San Diego, Amerika Serikat, pada Juni 2023.
Kelompok yang menentang kepemimpinan Eto’o sebelumnya meminta otoritas Amerika Serikat menyelidiki keberadaan dana tersebut.
Laporan terkait dugaan dana Meksiko itu juga pernah dikaitkan dengan pengaduan kepada Departemen Kehakiman AS dan FBI.
Selain persoalan finansial, perjalanan Eto’o sebagai pejabat sepak bola juga pernah menghadapi kontroversi lain.
Mantan wakil presiden Fecafoot Henry Njalla Quan Junior sebelumnya mengajukan laporan kepada komite etik FIFA pada 2024.
Laporan tersebut antara lain menyinggung dugaan pengaturan pertandingan dan penyalahgunaan kekuasaan oleh Eto’o.
Dalam kasus dugaan manipulasi pertandingan, Eto’o sebelumnya dinyatakan tidak terbukti karena bukti yang tersedia dinilai tidak mencukupi.
Hubungan dekat Eto’o dengan Infantino turut kembali menjadi perhatian di tengah berbagai kontroversi tersebut.
Eto’o bahkan secara terbuka menyebut Infantino sebagai sosok yang lebih dari sekadar rekan di dunia sepak bola.
Dalam wawancara dengan France24, Eto’o mengatakan, “Dalam hati saya, Presiden Gianni sudah menjadi saudara, bahkan kakak, sekaligus seorang sahabat.”
Ia juga menegaskan dukungannya terhadap pencalonan Infantino dalam pemilihan presiden FIFA berikutnya.
Eto’o menyatakan, “Saya akan memilihnya atas semua yang telah dia bawa bagi sepak bola Afrika.”
Ia bahkan mengatakan akan menggalang dukungan seluruh 54 presiden asosiasi anggota Konfederasi Sepak Bola Afrika.
Menurut Eto’o, kepemimpinan Infantino telah membuka lebih banyak peluang bagi negara-negara yang sebelumnya sulit tampil di Piala Dunia.
“Dia telah membantu benua kami dan federasi kami berkembang jauh lebih cepat, sehingga kita harus mengakui hasil kerjanya,” kata Eto’o.
Sikap terbuka Eto’o tersebut membuat hubungan keduanya semakin menjadi perhatian di tengah tuntutan transparansi.
Namun, sampai saat ini, tuduhan terkait pengelolaan dana pertandingan tersebut tetap merupakan klaim yang belum diputuskan melalui proses hukum.
Eto’o dan Fecafoot juga belum memberikan penjelasan publik yang membantah seluruh tuduhan terbaru sebagaimana dilaporkan media tersebut.
Perkembangan kasus ini kini bergantung pada tindak lanjut lembaga terkait dan bukti yang dapat diverifikasi secara independen.***