JAKARTA – Ruben Amorim kembali menyinggung para legenda Manchester United setelah periode sulitnya di kursi pelatih klub Inggris tersebut.
Kini menangani AC Milan, Amorim menghadapi tantangan baru bersama klub yang juga memiliki sejarah panjang dan ekspektasi besar.
Pengalaman pahit di Old Trafford tampaknya belum sepenuhnya lepas dari ingatan pelatih asal Portugal tersebut.
Selama memimpin Manchester United, Amorim kesulitan mengangkat performa tim di tengah tekanan besar dari berbagai pihak.
Ia hanya mencatat 24 kemenangan dari 63 pertandingan di semua kompetisi selama berada di Old Trafford.
Catatan tersebut turut menjadi sorotan para mantan pemain MU yang kini aktif sebagai pengamat sepak bola.
Gary Neville, Roy Keane, dan Paul Scholes termasuk sosok yang kerap memberikan kritik terhadap kinerja Amorim.
Ketiganya merupakan bagian dari generasi emas Manchester United yang terbiasa menikmati kesuksesan pada era 1990-an dan 2000-an.
Saat ditanya mengenai tekanan menangani klub besar dengan banyak legenda yang bersuara, Amorim kembali menyentil para pengkritiknya.
“Saya pernah berada di klub [Manchester United] dengan banyak legenda, mereka memiliki opini besar dan banyak berbicara tentang berbagai hal,” ujar Amorim seperti dikutip Goal, Sabtu (12/9/2026).
Ia menilai pandangan sejumlah legenda MU turut dipengaruhi pengalaman mereka ketika klub berada dalam periode kejayaan.
“Mereka hidup pada zaman yang benar-benar berbeda,” kata Amorim dalam komentarnya.
Menurut Amorim, kondisi sepak bola Manchester United saat ini tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan era ketika klub mendominasi kompetisi.
Manchester United kini telah melewati lebih dari satu dekade tanpa gelar Liga Inggris dan masih berusaha kembali menjadi kekuatan utama Eropa.
Paul Scholes sebelumnya bahkan menilai Amorim bukan sosok yang tepat untuk menangani Manchester United.
Scholes juga pernah menyebut Amorim tidak memahami sepenuhnya karakter serta tuntutan yang melekat pada klub berjuluk Setan Merah tersebut.
Amorim kala itu mengakui kritik tersebut sebagai bagian dari konsekuensi pekerjaannya sebagai pelatih Manchester United.
“Saya pikir itu normal, dan faktanya sebagai manajer Manchester United kami memang tampil di bawah ekspektasi,” ucap Amorim sebelumnya.
“Kami seharusnya mengoleksi lebih banyak poin, terutama musim ini, jadi saya menerimanya sebagai sesuatu yang wajar,” lanjutnya.
Amorim juga memahami mengapa legenda klub memiliki standar tinggi ketika menilai performa Manchester United.
“Terkadang mereka tidak memiliki seluruh informasi dan melihat Manchester United berdasarkan standar yang mereka alami ketika selalu meraih kemenangan,” ujarnya.
“Karena itu, sulit bagi mereka melihat klub yang mereka cintai berada dalam situasi seperti sekarang,” tambah Amorim.
Kini, pelatih asal Portugal itu memasuki babak baru bersama AC Milan dan dituntut segera membuktikan kualitasnya di Italia.
Tekanan di San Siro diperkirakan tetap besar karena Milan memiliki sejarah panjang serta basis suporter dengan ekspektasi tinggi.
Amorim tidak lagi harus menghadapi sorotan rutin dari para pengamat Inggris, tetapi hasil di Italia akan menjadi ukuran penting bagi reputasinya.
Performa bersama Milan pada akhirnya menjadi kesempatan Amorim untuk menjawab berbagai keraguan yang muncul setelah masa sulitnya di Manchester United.***