NEW YORK, AS — Puluhan delegasi negara meninggalkan ruang sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sesaat sebelum Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidatonya di New York, Kamis (24/9/2026) waktu setempat. Indonesia menjadi salah satu negara yang melakukan aksi walk out tersebut.
Rekaman yang disampaikan Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di New York dan diterima di Jakarta memperlihatkan para diplomat Indonesia berdiri dari tempat duduk mereka ketika Netanyahu bersiap naik ke podium. Setelah itu, kursi delegasi Indonesia tampak kosong.
Aksi serupa dilakukan oleh sejumlah delegasi lain. Menurut laporan media Israel, terdapat 77 delegasi yang tidak berada di dalam ruang sidang ketika Netanyahu mulai menyampaikan pidatonya. Daftar tersebut mencakup sejumlah negara Timur Tengah dan negara lain yang selama ini menyuarakan kritik terhadap kebijakan Israel di Gaza dan wilayah Palestina.
Pemandangan ruang sidang yang dipenuhi kursi kosong menjadi salah satu sorotan utama saat Netanyahu mengambil posisi di podium. Sejumlah diplomat bahkan terdengar mencemooh sebelum dan ketika pidato dimulai.
Netanyahu kemudian merespons aksi tersebut secara langsung. Ia menyebut para diplomat yang meninggalkan ruangan sebagai “pengecut moral”.
“Jika masih ada pengecut moral lainnya yang belum meninggalkan ruangan ini, silakan pergi,” kata Netanyahu, seperti dikutip AFP.
Meski banyak delegasi meninggalkan ruangan, Netanyahu tetap melanjutkan pidatonya. Timnya yang berada di dalam ruang sidang berdiri dan memberikan tepuk tangan. Ketua sidang kemudian meminta suasana kembali tertib.
Netanyahu Hadapi Tekanan Internasional
Walk out tersebut berlangsung di tengah tekanan diplomatik yang terus meningkat terhadap pemerintah Israel terkait perang di Gaza dan kebijakan terhadap Palestina.
Sejumlah negara Eropa dan Timur Tengah sebelumnya menggunakan forum Majelis Umum PBB untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan Israel. Dalam pidatonya, Netanyahu juga menyerang sejumlah negara dan tokoh yang menurutnya menentang Israel.
Salah satu sasaran kritiknya adalah Wali Kota New York Zohran Mamdani. Sebelumnya, Mamdani menyatakan sikap keras terhadap Netanyahu dan menyebut akan menangkapnya jika memiliki kewenangan untuk melakukan hal tersebut.
Netanyahu kemudian menggunakan podium PBB untuk membalas kritik tersebut.
“Kalian tidak bisa membungkam saya. Kalian tidak bisa membungkam kebenaran,” ujar Netanyahu.
Selain Mamdani, Netanyahu juga melontarkan kritik terhadap sejumlah pemimpin negara Barat, termasuk Inggris dan Prancis. Ia juga menyinggung Iran serta pemerintah Qatar dan Türkiye dalam pidatonya.
Pidato tersebut berlangsung sekitar 40 menit dan menjadi panggung bagi Netanyahu untuk membela kebijakan serta tindakan militer Israel.
Pidato Netanyahu Dibayangi Perang Gaza
Situasi di dalam ruang sidang PBB tersebut berlangsung ketika Israel menghadapi kecaman internasional terkait operasi militernya di Gaza.
Konflik yang berlangsung sejak serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023 telah menimbulkan korban dalam jumlah besar dan memicu tekanan internasional terhadap pemerintah Netanyahu.
Netanyahu dalam pidatonya tetap mempertahankan narasi bahwa Israel memiliki hak untuk mempertahankan diri. Ia juga memaparkan klaim mengenai keberhasilan operasi militer Israel di sejumlah medan pertempuran.
Pada saat yang sama, aksi walk out menunjukkan adanya delegasi yang memilih tidak mengikuti pidato Netanyahu secara langsung. Sejumlah laporan media menggambarkan aksi tersebut sebagai salah satu bentuk protes terhadap kebijakan Israel di Gaza.
Tekanan tersebut juga tidak hanya muncul di dalam gedung PBB. Demonstrasi berlangsung di sejumlah lokasi di New York menjelang dan ketika Netanyahu berada di kota tersebut.
Para demonstran menyerukan penghentian perang di Gaza dan menentang dukungan terhadap operasi militer Israel. Aksi tersebut melibatkan berbagai kelompok masyarakat sipil dengan latar belakang berbeda.
Disorot Media Israel
Aksi pengosongan ruang sidang juga menjadi perhatian media Israel.
Ynetnews melaporkan bahwa 77 negara tercatat tidak hadir atau meninggalkan ruang sidang ketika Netanyahu menyampaikan pidatonya. Media tersebut mencatat sejumlah negara yang memilih tidak berada di ruang sidang, termasuk negara-negara Arab dan negara lain yang menyampaikan kritik terhadap Israel.
Media internasional lainnya juga menyoroti pemandangan delegasi yang beranjak dari tempat duduk mereka ketika Netanyahu mulai berbicara.
CBS News melaporkan banyak peserta meninggalkan ruang sidang saat Netanyahu naik ke podium. Sementara itu, CNA menyebut puluhan utusan dari berbagai negara walk out dan sebagian di antaranya mencemooh atau meneriakkan ejekan.
Aksi tersebut membuat Netanyahu menyampaikan sebagian pidatonya di hadapan jumlah hadirin yang jauh lebih sedikit dibandingkan ketika sesi dimulai.
Dibayangi Proses Hukum ICC
Tekanan terhadap Netanyahu juga berlangsung dalam konteks proses hukum internasional. Mahkamah Pidana Internasional atau International Criminal Court (ICC) telah menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu pada November 2024 terkait dugaan kejahatan yang masuk dalam yurisdiksi pengadilan tersebut.
Israel menolak yurisdiksi dan tuduhan tersebut serta mempertahankan argumen bahwa sistem hukum nasionalnya mampu menangani dugaan pelanggaran yang dilakukan warganya. Dokumen resmi ICC juga mencatat keberatan Israel terhadap proses tersebut.
Situasi itu membuat perjalanan Netanyahu ke sejumlah negara menjadi persoalan diplomatik dan hukum yang sensitif.
Pidato di Tengah Persaingan Politik Israel
Pidato Netanyahu di PBB juga berlangsung ketika politik domestik Israel memasuki periode penting. Pemilihan umum Israel dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026, sehingga pidato di hadapan forum internasional tersebut turut mendapat perhatian publik Israel.
CNA melaporkan Netanyahu berada dalam persaingan politik yang ketat menjelang pemilu dan menggunakan pidatonya untuk menyampaikan pesan mengenai kebijakan keamanan serta keberhasilan militer Israel.
Dalam pidatonya, Netanyahu memaparkan apa yang disebutnya sebagai pencapaian Israel di berbagai medan konflik. Ia juga membawa sejumlah benda sebagai alat peraga untuk mendukung pesan yang disampaikannya.
Di luar ruang sidang, pemerintah Israel juga menjalankan kampanye komunikasi di New York melalui sejumlah materi visual yang memuat pesan pro-Israel dan kritik terhadap Iran.
Meski mendapat tekanan dari berbagai arah, Netanyahu tetap menggunakan forum PBB untuk menyampaikan pembelaan terhadap kebijakan pemerintahannya.
Aksi walk out puluhan delegasi, termasuk Indonesia, akhirnya menjadi salah satu gambaran paling menonjol dari pidato Netanyahu di Sidang Majelis Umum PBB tahun ini. Kursi-kursi kosong yang terlihat ketika perdana menteri Israel tersebut mulai berbicara menunjukkan bahwa pidatonya berlangsung di tengah perbedaan sikap yang tajam di antara negara-negara anggota PBB terkait perang Gaza dan kebijakan Israel terhadap Palestina.
Berikut Daftar 77 Negara yang Delegasinya Boikot Pidato Netanyahu di PBB
- Suriname
- Tuvalu
- Turkmenistan
- Yaman
- Mesir
- Panama
- Senegal
- Palestina
- Sudan
- Tunisia
- Türkiye
- Venezuela
- Antigua dan Barbuda
- Belize
- Republik Kongo
- Oman
- Qatar
- Arab Saudi
- Tonga
- Uzbekistan
- Angola
- Barbados
- Kolombia
- Komoro
- Dominika
- Djibouti
- Makedonia Utara
- San Marino
- Afrika Selatan
- Somalia
- Aljazair
- Bangladesh
- Brunei Darussalam
- Brasil
- Chile
- Republik Demokratik Kongo (DRC)
- Lebanon
- Liberia
- Eritrea
- Chad
- Republik Afrika Tengah
- Libya
- Mauritania
- Yordania
- Nikaragua
- Madagaskar
- Niger
- Peru
- Saint Lucia
- Slovenia
- Afghanistan
- Bahama
- Bosnia dan Herzegovina
- Botswana
- Korea Utara
- Eswatini
- Suriah
- Uganda
- Pakistan
- Lesotho
- Bolivia
- Spanyol
- Kuba
- Guinea Ekuatorial
- Iran
- Kirgizstan
- Irak
- Mozambik
- Myanmar
- Irlandia
- Maladewa
- Indonesia
- Kuwait
- Namibia
- Malaysia
- Guyana
- Kenya