Praktik “getok harga” oleh oknum transportasi umum kembali meresahkan warga Jakarta. Tiga wanita mengaku menjadi korban pemerasan tarif oleh pengemudi bajaj saat hendak bepergian dari Mal Grand Indonesia (GI), Menteng, menuju Stasiun LRT Dukuh Atas, Jakarta Pusat.
Kisah tidak menyenangkan tersebut mendadak tular di media sosial usai diunggah oleh akun Threads @jeanicekrwn.
Dalam unggahannya, Jeanice menceritakan bahwa ia dan dua rekannya dipaksa membayar tarif fantastis sebesar Rp 120.000 hanya untuk menempuh rute singkat sejauh 2,5 kilometer.
“Nyebelin banget. Ini kita ditipu nggak sih sama abang bajajnya? Awalnya pas kita tanya dari GI ke LRT Dukuh Atas berapa, dia cuma jawab Rp 40.000. Kita pikir Rp 40.000 sekali jalan, eh ternyata dibilang Rp 40.000 per orang,” keluh Jeanice dalam unggahannya.
Kronologi: Sulit Ojek Online Hingga Terjebak Trik Oknum
Peristiwa bermula saat Jeanice dan dua temannya berada di lobi GI sekitar pukul 18.00 WIB. Akibat kemacetan parah di kawasan pusat kota, pesanan transportasi daring (online) yang mereka ajukan berkali-kali dibatalkan oleh pengemudi.
Melihat sebuah bajaj melintas di depan mal, mereka akhirnya memutuskan menggunakan moda transportasi khas Jakarta tersebut. Sebelum naik, korban mengaku sudah mengonfirmasi harga awal sebesar Rp 40.000—nominal yang dinilai wajar untuk satu kali charter armada.
Namun, drama terjadi saat mereka tiba di Stasiun LRT Dukuh Atas. Sopir bajaj secara sepihak berdalih bahwa nominal Rp 40.000 merupakan tarif hitungan per kepala.
“Kami sempat protes kalau Rp 40.000 itu untuk satu rombongan sekali jalan. Tapi sopirnya tetap ngotot kalau sekarang aturan di Jakarta dihitungnya per orang,” tutur Jeanice saat dikonfirmasi.
Lantaran enggan memperpanjang keributan di tempat umum, ketiganya akhirnya mengalah dan menyerahkan uang total Rp 120.000.
Sudah Ditagih Mahal, Kembalian Pun Kurang
Apesnya lagi, kemalangan Jeanice dan kawan-kawan tak berhenti di situ. Karena kondisi sekitar stasiun sudah gelap dan malam, mereka tidak langsung menghitung uang kembalian dari pecahan nominal besar yang diserahkan kepada sopir.
Saat diperiksa kembali di dalam area stasiun LRT, mereka baru menyadari bahwa uang kembalian yang diterima masih kurang Rp 10.000.
Jeanice menyayangkan ulah oknum sopir bajaj yang merusak citra transportasi publik lokal di tengah posisi strategis kawasan Dukuh Atas sebagai pusat integrasi moda transportasi Jakarta. Ia berharap insiden ini menjadi peringatan keras bagi warga lain sekaligus pendorong evaluasi penataan transportasi oleh dinas terkait.
Upaya konfirmasi telah dilayangkan kepada Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Budi Awaluddin, guna meminta tanggapan resmi terkait pengawasan tarif armada bajaj di kawasan ring satu tersebut. Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak Dishub DKI belum memberikan jawaban.