NEW YORK, AS — Iran menawarkan skema tujuh hari untuk membuka kembali Selat Hormuz, tetapi rencana itu hanya akan berjalan jika Amerika Serikat (AS) lebih dulu memenuhi seluruh persyaratan yang diajukan Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan proposal tersebut telah disampaikan kepada Washington melalui Pemerintah Qatar. Menurut dia, pembukaan jalur pelayaran strategis itu kini bergantung pada keputusan AS untuk menerima dan menjalankan kesepakatan yang ditawarkan Iran.
Araghchi menyampaikan hal tersebut di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Ia menjelaskan, hitungan tujuh hari akan dimulai segera setelah AS memberikan persetujuan resmi terhadap rencana tersebut.
“Segera setelah Amerika Serikat menyetujui rencana ini,” kata Araghchi saat menjelaskan mekanisme pelaksanaan proposal tersebut.
Ia mencontohkan, apabila Washington memberikan persetujuan pada hari berikutnya, maka hari pertama dalam skema tujuh hari itu langsung dihitung sejak persetujuan diberikan.
AS Diminta Tuntaskan Persyaratan dalam 4-5 Hari
Dalam proposal Iran, AS tidak hanya diminta menyetujui rencana pembukaan Selat Hormuz, tetapi juga harus menjalankan sejumlah langkah konkret sebagai bagian dari kesepakatan.
Araghchi memperkirakan seluruh tindakan yang menjadi kewajiban AS dapat diselesaikan dalam waktu sekitar empat hingga lima hari. Setelah seluruh persyaratan tersebut dipenuhi, Iran akan melanjutkan tahapan berikutnya sesuai jadwal yang telah disusun.
Menurut Araghchi, persyaratan yang diajukan Iran bukan merupakan tuntutan baru. Poin-poin tersebut, kata dia, telah tercantum dalam nota kesepahaman atau *memorandum of understanding* (MoU) yang sebelumnya telah disepakati.
Karena itu, Iran menilai pelaksanaan persyaratan tersebut seharusnya tidak menimbulkan hambatan berarti bagi AS.
Berdasarkan skema yang disampaikan Araghchi, Selat Hormuz akan dibuka kembali pada hari keenam setelah seluruh kewajiban AS diselesaikan. Sementara pada hari ketujuh, kedua pihak akan memasuki tahap negosiasi lanjutan.
“Jika ada keseriusan dari pihak AS untuk mencapai kesepakatan dan membuka kembali Selat Hormuz, segalanya kini sudah siap,” ujar Araghchi.
Iran Klaim Persiapan Pembukaan Sudah Rampung
Iran juga menyatakan seluruh persiapan teknis dan administratif untuk menjalankan rencana tersebut telah diselesaikan.
Dengan demikian, menurut Araghchi, Iran siap memulihkan akses terhadap jalur pelayaran tersebut apabila Washington menunjukkan keseriusan untuk mencapai kesepakatan.
Selat Hormuz menjadi jalur strategis dalam perdagangan internasional karena menjadi salah satu rute utama pelayaran energi dunia. Karena itu, setiap perubahan terhadap akses pelayaran di kawasan tersebut memiliki dampak terhadap aktivitas perdagangan dan pergerakan energi internasional.
Namun, dalam proposal yang disampaikan Iran, pembukaan kembali jalur tersebut dikaitkan langsung dengan pemenuhan persyaratan oleh AS.
Iran Tolak Tekanan dan Ancaman
Araghchi juga menegaskan bahwa Teheran tidak akan mengubah sikapnya karena tekanan diplomatik maupun ancaman dari pihak luar.
Ia menyatakan Iran akan tetap mempertahankan apa yang disebutnya sebagai hak kedaulatan militernya. Menurut dia, keputusan berikutnya kini berada di tangan Washington.
“Pilihan kini ada di tangan Amerika Serikat,” ujar Araghchi.
Hingga laporan ini diturunkan, Pemerintah AS maupun Departemen Luar Negeri AS belum memberikan tanggapan resmi mengenai proposal tujuh hari yang disampaikan Iran tersebut.