Gelombang spekulasi mengenai masa depan kepemimpinan Fred Vasseur di tim Formula 1 Ferrari kian berhembus kencang. Di tengah isu panas yang mengaitkan mantan Prinsipal Tim Red Bull, Christian Horner, dengan Maranello, gestur Lewis Hamilton kini turut menjadi sorotan tajam.
Laporan terbaru menuding Hamilton secara tidak langsung “mengikis” otoritas Vasseur usai memberikan respons serba singkat ketika ditanya mengenai nasib sang bos tim pasca-balapan Azerbaijan Grand Prix.
Saat ditanya oleh Sky Sports F1 apakah ia masih percaya Vasseur adalah sosok yang tepat untuk memimpin Ferrari, juara dunia tujuh kali itu hanya menjawab satu kata singkat: “Ya.”
Meskipun memvalidasi Vasseur, kedekatan personal Hamilton dengan Chairman Ferrari, John Elkann, memicu spekulasi lain mengenai siapa pemilik kendali hierarki sebenarnya di tim berlogo kuda jingkrak tersebut.
“Siapa sebenarnya yang memegang kendali di Ferrari? Itu pertanyaan mendasar yang harus dijawab sebelum keputusan masa depan dibuat,” cetus komentator senior Sky Sports F1, David Croft.
“Saya tidak mengkritik Lewis, tetapi ketika dia menekankan betapa dekat hubungannya dengan John Elkann, apakah itu secara tidak langsung sedikit mengikis posisi Fred? Jika Elkann terlalu intervensif, bagaimana seorang team principal bisa menegakkan otoritasnya?” lanjut Croft.
Dukungan Resmi Manajemen di Tengah ‘Impian’ Horner
Tensi internal ini makin memuncak setelah Christian Horner secara terbuka mengakui bahwa bergabung dengan Ferrari adalah sebuah “impian”. Menanggapi rumor yang makin liar, manajemen puncak Ferrari mengambil langkah tak biasa dengan menggelar panggilan media darurat.
Chief Communication Officer Ferrari, Maria Conti, menyampaikan pesan resmi atas nama Chairman John Elkann dan CEO Benedetto Vigna yang menegaskan komitmen serta dukungan penuh publik bagi keberlanjutan kepemimpinan Vasseur.
Akar Masalah Struktur Organisasi Ferrari
David Croft menilai bahwa mengganti Vasseur dengan sosok seperti Horner tidak akan otomatis menyelesaikan masalah klasik Ferrari. Menurutnya, kegagalan berulang tim asal Italia tersebut terletak pada struktur manajerial yang kurang memberikan kebebasan tereksekusi bagi pimpinan tim.
“Alasan mengapa skema kepemimpinan Christian berhasil di Red Bull adalah karena ia menjabat sebagai CEO sekaligus team principal. Ia diberikan otonomi penuh untuk membangun dan menjalankan tim,” jelas Croft.
“Tanpa memberikan independensi serupa di Ferrari, mereka hanya akan mengulangi kesalahan struktur yang sama secara berulang-ulang tanpa pernah memaksimalkan potensi penuh yang dimiliki,” pungkasnya.