Kasus dugaan keracunan makanan yang bersumber dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memicu kekhawatiran publik. Kali ini, sebanyak 21 siswa SDN Tambahmulyo 02, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dilaporkan mengalami pusing, mual, hingga muntah usai mengonsumsi susu kemasan dalam paket menu harian, Rabu (30/9/2026).
Dari total puluhan siswa yang terdampak, enam murid dilarikan ke Puskesmas Jakenan guna mendapatkan penanganan medis dan observasi darurat, sementara 15 siswa lainnya menjalani pemantauan dalam kondisi stabil.
Salah satu orang tua siswa kelas 5, Septi, mengaku sangat terpukul dan trauma saat mendapati anaknya sudah berada di fasilitas kesehatan saat hendak dijemput dari sekolah.
“Saya kaget begitu sampai sekolah ternyata anak saya sudah dibawa ke Puskesmas Jakenan. Katanya pusing dan mual setelah minum susu dari menu MBG. Susunya itu terasa pahit, kecut, dan ada yang sudah menggumpal (bergerindil), padahal kemasannya masih bagus dan tanggal kedaluwarsanya masih lama,” ungkap Septi dilansir dari Detik.
Sampel Diamankan, Tanggal Kedaluwarsa Masih 2027
Rangkaian menu MBG yang dibagikan kepada para siswa hari itu terdiri dari nasi, sayur sup, telur ceplok, dan minuman susu kemasan.
Pihak Puskesmas Jakenan membenarkan adanya insiden penanganan darurat terhadap puluhan siswa sekolah dasar tersebut. Perawat Puskesmas Jakenan, Yuliati, mengonfirmasi bahwa secara fisik luar, kemasan produk susu tidak mengalami kerusakan dan masa berlaku produk masih terdaftar hingga tahun 2027.
“Secara fisik kemasan tidak rusak dan tanggal kedaluwarsa masih sampai 2027. Namun dari keterangan anak-anak, rasa susunya memang sudah berubah dan tidak enak. Kami sudah mengamankan sampel produk untuk diuji laboratorium melalui dinas terkait,” terang Yuliati.
Dampak insiden kesehatan ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan orang tua murid. Beberapa wali murid melayangkan desakan keras agar pengawasan rantai pasok dan kualitas pangan program MBG dievaluasi secara menyeluruh dari hulu ke hilir.
“Tentu trauma karena ini mengancam jiwa anak. Kami berharap jangan ada lagi kasus keracunan seperti ini, cukup hari ini saja. Kalau kualitasnya seperti ini, mending programnya dihentikan atau dievaluasi total,” tegas Septi.