JAKARTA — Penangkapan seorang pria berusia 24 tahun di Belanda yang diduga terkait kelompok peretas ShinyHunters memunculkan persoalan baru. Di tengah pengungkapan kasus tersebut, muncul dugaan bahwa tersangka justru dijebak oleh faksi rival di internal kelompok peretas.
Penangkapan dilakukan kepolisian Belanda pada 15 September. Direktur FBI Kash Patel mengonfirmasi operasi tersebut dan menyebut ShinyHunters sebagai kelompok kejahatan siber global yang diduga terlibat dalam sejumlah serangan terhadap infrastruktur penting di Amerika Serikat, Belanda, dan negara lainnya.
Selain perkara kejahatan siber, tersangka juga diduga terlibat dalam upaya menghasut sedikitnya dua tindakan pembunuhan di luar negeri. Otoritas Belanda dan Amerika Serikat juga membuka kemungkinan adanya tersangka lain dalam perkara tersebut.
Identitas pria yang ditangkap belum diumumkan secara resmi oleh aparat. Namun, Benjamin Korper, pimpinan perusahaan keamanan siber Neo Security di Amsterdam, menyebut tersangka merupakan Kepala Keamanan Ofensif di perusahaannya, Pepijn van der Stap.
Korper mengaku terkejut mengetahui penangkapan tersebut. Menurut dia, Van der Stap telah menjalani pemeriksaan latar belakang sebelum bergabung dengan perusahaan setelah menyelesaikan hukuman penjara pada Desember 2025.
Van der Stap sebelumnya memang pernah berurusan dengan hukum. Pada 2023, dia dipidana dalam perkara pencurian data dan pemerasan.
Setelah menjalani hukuman, Van der Stap disebut menyatakan telah meninggalkan aktivitas peretasan ilegal. Dia kemudian memilih menggunakan keahliannya di bidang siber untuk membantu memperkuat sistem pertahanan digital.
Namun, penangkapan tersebut kemudian dikaitkan dengan aktivitas ShinyHunters. Kelompok tersebut membantah bahwa Van der Stap merupakan bagian dari operasi mereka.
Dalam pernyataannya kepada Cybernews, ShinyHunters menyebut penangkapan tersebut sebagai “lelucon”. Mereka juga menilai kepolisian Belanda tidak kompeten dalam menangani perkara tersebut.
ShinyHunters bahkan menuding kepolisian Belanda tengah mencari perhatian setelah sebelumnya dipermalukan dalam kasus peretasan terhadap Odido, operator seluler terbesar di Belanda. Insiden pada Februari lalu tersebut kemudian berkembang menjadi upaya pemerasan.
Kelompok itu juga menilai aparat Belanda ingin menunjukkan keberhasilan dalam penegakan hukum siber dibandingkan FBI.
### Muncul Dugaan Dijebak Faksi Rival
Persoalan semakin kompleks setelah muncul dugaan bahwa Van der Stap menjadi sasaran jebakan dari kelompok peretas lain.
Laporan jurnalis investigasi keamanan siber Amerika Serikat, Brian Krebs, mengungkap adanya perselisihan antara Van der Stap dan sosok yang dikenal dengan alias “Rey”. Sosok tersebut disebut sebagai pemimpin faksi sempalan ShinyHunters bernama Scattered Lapsus$ Hunters.
Perselisihan itu diduga berkaitan dengan perebutan kendali atas merek ShinyHunters. Dalam perkembangan selanjutnya, sumber-sumber independen menyebut faksi yang dipimpin Rey diduga menggunakan kembali alias lama Van der Stap, yakni “Umbreon”, untuk mengarahkan aktivitas siber kepadanya.
Alias Umbreon sebelumnya disebut pernah digunakan Van der Stap. Nama tersebut merujuk pada salah satu karakter Pokémon.
Jejak dengan nama Umbreon kemudian kembali muncul dalam sejumlah serangan siber yang menyasar kelompok ransomware rival serta serangan balik terhadap FBI.
Hal yang menjadi sorotan adalah aktivitas dengan alias tersebut dilaporkan masih tercatat setelah Van der Stap berada dalam tahanan polisi.
Kondisi itu menjadi salah satu dasar munculnya dugaan bahwa terdapat pihak lain yang menggunakan identitas atau alias lama Van der Stap dalam aktivitas siber.
Meski demikian, kaitan tersebut masih menjadi bagian dari dugaan yang muncul dalam pemberitaan dan belum dijelaskan secara rinci oleh aparat penegak hukum Belanda maupun FBI.
### ShinyHunters Klaim Bobol Data Agen FBI
Penangkapan tersebut terjadi setelah ShinyHunters sebelumnya mengklaim berhasil memperoleh data pribadi hampir seluruh agen FBI.
Kelompok peretas itu mengaku aksinya tidak dilakukan untuk mendapatkan keuntungan finansial. Mereka menyatakan serangan terhadap FBI dilakukan sebagai bentuk tekanan agar lembaga tersebut mencabut peringatan keamanan siber yang sebelumnya diterbitkan.
ShinyHunters menilai peringatan tersebut memuat tuduhan yang tidak benar terhadap kelompok mereka.
Kelompok itu sempat memberikan batas waktu selama satu pekan kepada FBI untuk memenuhi tuntutan tersebut. Namun, tenggat tersebut kemudian ditarik kembali.
ShinyHunters juga menyatakan tidak akan melakukan tindakan lanjutan apabila tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Sementara itu, hingga kini belum ada penjelasan lebih lanjut dari kepolisian Belanda maupun FBI mengenai status hukum Pepijn van der Stap maupun kemungkinan keterlibatan tersangka lain.
Perkara tersebut masih menjadi sorotan karena penangkapan yang dikaitkan dengan kelompok peretas ShinyHunters tidak hanya menyangkut dugaan serangan siber, tetapi juga diwarnai bantahan kelompok tersebut serta dugaan adanya perseteruan dan penggunaan identitas lama oleh faksi rival.