WASHINGTON, AS — Pemerintah Amerika Serikat menuding kelompok peretas yang disebut mendapat dukungan pemerintah China telah menjalankan operasi siber terhadap sejumlah lembaga strategis Amerika, mulai dari NASA, Federal Reserve (Fed), Senat, hingga sektor infrastruktur vital nasional.
Tuduhan tersebut disampaikan hanya beberapa pekan sebelum Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump di Washington pada 24 September mendatang. Dugaan serangan siber itu pun menambah ketegangan dalam hubungan kedua negara yang sebelumnya telah diwarnai perselisihan di bidang perdagangan, teknologi, dan keamanan.
Departemen Kehakiman AS bersama Federal Bureau of Investigation (FBI) menyatakan telah menyita tiga domain internet yang disebut berkaitan dengan dua platform peretasan milik kelompok asal China berinisial QTFY.
Menurut laporan Russia Today yang dikutip dalam informasi tersebut, Washington menilai perusahaan yang berada di balik platform tersebut menyediakan kemampuan spionase siber untuk Kementerian Keamanan Negara China serta Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).
Aktivitas yang dikaitkan dengan kelompok QTFY itu disebut tidak hanya menyasar lembaga pemerintahan. Sejumlah sektor strategis Amerika juga diduga menjadi target, termasuk rumah sakit, perusahaan telekomunikasi, penyedia listrik, institusi keuangan, dan kontraktor pertahanan.
Namun, pemerintah AS belum mengungkap secara rinci seberapa jauh aktivitas tersebut memengaruhi sistem yang menjadi sasaran. Otoritas juga belum menjelaskan besaran data sensitif yang diduga berhasil diakses ataupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan.
China Bantah Tuduhan AS
Beijing langsung merespons tudingan tersebut. Kedutaan Besar China di Washington menegaskan bahwa pemerintah China menolak segala bentuk serangan siber dan menyatakan sikapnya terhadap aktivitas kejahatan di dunia maya.
“China menentang dan memerangi segala bentuk serangan siber,” tegas Kedutaan Besar China di Washington.
Pemerintah China juga meminta Washington tidak menjadikan isu keamanan siber sebagai instrumen politik untuk menekan atau mendiskreditkan Beijing.
Bantahan tersebut kembali menunjukkan bagaimana keamanan siber telah menjadi salah satu titik sensitif dalam hubungan AS-China. Tuduhan mengenai aktivitas peretasan dari kedua negara selama ini kerap muncul bersamaan dengan meningkatnya persaingan strategis Washington dan Beijing.
Persoalan tersebut bahkan pernah menyeret Trump. Sebelumnya, Presiden AS itu menuding China melakukan campur tangan terhadap pemilu Amerika Serikat dengan mencuri sekitar 220 juta data pemilih pada 2020.
Beijing membantah tuduhan tersebut. Klaim itu juga mendapat respons skeptis karena data yang disebut dalam tudingan tersebut disinyalir merupakan informasi publik yang dapat diperoleh secara komersial.
Trump Akui AS Juga Melakukan Operasi Intelijen
Di tengah saling tuding mengenai aktivitas siber, Trump sebelumnya juga mengakui bahwa Amerika Serikat menjalankan operasi intelijen terhadap China.
Pengakuan tersebut disampaikan Trump setelah pertemuannya dengan Xi Jinping pada Mei lalu. Ketika ditanya mengenai aktivitas spionase antara kedua negara, Trump secara terbuka menyebut Washington juga melakukan pengintaian terhadap Beijing.
“Kami juga memata-matai mereka habis-habisan,” ujar Trump kepada wartawan.
Trump bahkan mengatakan masih banyak aktivitas yang dilakukan Amerika Serikat dan tidak diketahui publik.
“Kami melakukan banyak hal kepada kalian yang tidak kalian ketahui,” katanya.
Trump menggambarkan praktik saling memata-matai tersebut sebagai “pedang bermata dua”, yang mencerminkan persaingan intelijen dan keamanan siber antara kedua kekuatan dunia tersebut.
Pernyataan itu menjadi bagian dari konteks lebih luas dalam hubungan AS-China, ketika kedua negara sama-sama saling menuduh melakukan operasi siber dan kegiatan intelijen terhadap kepentingan nasional masing-masing.
China Juga Pernah Tuduh NSA Meretas
Tuduhan mengenai aktivitas siber juga pernah datang dari Beijing. Pada Oktober lalu, pemerintah China menuding Badan Keamanan Nasional AS atau National Security Agency (NSA) melakukan operasi peretasan selama bertahun-tahun terhadap National Time Service Center China.
Fasilitas tersebut disebut memiliki peran penting dalam mendukung berbagai sektor strategis China, termasuk keuangan, energi, dan pertahanan nasional.
NSA tidak mengonfirmasi maupun membantah tuduhan tersebut.
Dengan demikian, tudingan terbaru Washington terhadap kelompok QTFY bukanlah satu-satunya perselisihan siber antara Amerika Serikat dan China. Kedua negara sebelumnya juga telah saling melontarkan tuduhan terkait operasi intelijen dan serangan terhadap infrastruktur digital.
Persoalan itu kini muncul menjelang agenda pertemuan Trump dan Xi Jinping di Washington pada akhir September. Pertemuan tersebut berlangsung ketika hubungan kedua negara masih menghadapi sejumlah persoalan, termasuk persaingan perdagangan, teknologi, keamanan, serta kebijakan AS terhadap mitra dagang Iran.
Rangkaian tuduhan dan bantahan mengenai aktivitas siber tersebut menambah kompleksitas hubungan Washington dan Beijing. Keamanan siber pun menjadi salah satu isu yang berpotensi ikut membayangi pertemuan kedua pemimpin negara tersebut.