Pemasok ban tunggal MotoGP, Michelin, secara resmi menarik alokasi ban belakang kompon Soft dari balapan utama GP Jepang 2026 pada hari Minggu. Keputusan mendadak ini diambil menyusul maraknya masalah teknis dan blistering (ban terkelupas akibat panas ekstrem) yang dialami mayoritas pembalap dalam sesi Sprint Race 12 putaran di Sirkuit Motegi, Sabtu.
Dengan ditariknya kompon Soft, para pembalap kini hanya memiliki dua pilihan: bertahan dengan kompon Medium yang berisiko, atau beralih ke ban Hard berkonstruksi tebal (reinforced casing)—opsi yang justru belum pernah dijajal satu putaran pun oleh tim mana pun sepanjang akhir pekan ini.
Guna memberi ruang adaptasi, durasi sesi warm-up pada Minggu pagi resmi diperpanjang dua kali lipat, dari 10 menit menjadi 20 menit.
Dilema Paddock: Perjudian Medium atau Kompon Hard Tanpa Data
Penarikan ban Soft memicu kecemasan di barisan pembalap. Dua kandidat juara dunia, Jorge Martin dan Pecco Bagnaia, menderita kendala besar pada ban belakang Soft saat Sprint Race.
Pembalap Yamaha, Jack Miller, yang sempat menjajal kompon Medium, mengungkapkan bahwa ban miliknya pun mengalami blistering parah. Ia memprediksi balapan utama hari Minggu berpotensi berubah menjadi “lotre” jika seluruh pembalap dipaksa menggunakan ban Hard tanpa basis data.
“Saya bisa jamin, hampir semua pembalap akan terpaksa memakai ban Hard. Menggunakan ban yang belum pernah ditest sama sekali di Motegi bakal membuat balapan besok seperti perjudian,” tegas Miller.
Situasi makin pelit bagi Ducati lantaran struktur ban Hard yang direkomendasikan Michelin ini menggunakan sasis tebal—jenis ban sama yang sempat memicu masalah grip bagi motor Desmosedici saat mengaspal di Red Bull Ring, Austria.
Penjelasan Michelin: Rekor Waktu, Suhu Panas, dan Riding Style
Manajer Roda Dua Michelin, Piero Taramasso, menjelaskan bahwa karakter aspal baru Motegi yang sangat agresif dipadu dengan suhu lintasan menembus 40°C serta lonjakan kecepatan sprint—yang 9 detik lebih cepat dibanding musim lalu—menjadi pemicu utama kehancuran ban Soft.
“Dalam sesi Sprint, pembalap tidak memikirkan konsumsi bahan bakar, sehingga mereka memacu motor dengan kekuatan penuh sejak lap pertama. Ini menyalurkan energi berlebih ke ban belakang dan memicu spinning tinggi,” terang Taramasso.
Anehnya, kendala blistering ini tidak merata. Sang pemenang Sprint, Marc Marquez, justru berhasil menuntaskan balapan tanpa masalah ban pada motor Ducati miliknya. Menurut Taramasso, ketahanan ban sangat bergantung pada gaya balap (riding style), manajemen temperatur, dan setelan (settingan) masing-masing pabrikan.
“Analisis data kami menunjukkan kompon Soft tidak aman untuk durasi balapan penuh. Kompon Medium masih diperbolehkan, tetapi membutuhkan tyre management yang sangat hati-hati. Jika pembalap ingin menekan sejak awal hingga akhir, kami merekomendasikan opsi ban Hard,” pungkasnya.
Kini, seluruh tim dihadapi keputusan strategis tingkat tinggi menjelang sesi balapan utama: mempertaruhkan daya tahan ban Medium demi grip, atau nekat memakai ban Hard yang belum teruji demi keselamatan operasional hingga garis finis.