JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto mengingatkan TNI bahwa ancaman terhadap Indonesia kini tidak lagi hanya datang dalam bentuk serangan fisik. Ia menyebut serangan siber, disinformasi, berita bohong, gangguan ekonomi, hingga pencurian kekayaan sebagai ancaman yang harus diwaspadai.
Pesan itu disampaikan Prabowo saat memberikan amanat pada upacara peringatan HUT ke-81 TNI di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta.
Menurut Prabowo, perkembangan situasi global yang penuh gejolak membuat Indonesia harus bersiap menghadapi bentuk ancaman yang semakin beragam. Karena itu, TNI dituntut mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. “Dunia sekarang menunjukkan penuh gejolak, penuh ketidakpastian. Kita tidak tahu kapan ancaman kepada kita akan menjadi nyata,” kata Prabowo.
Ia kemudian menegaskan bahwa ancaman terhadap Indonesia saat ini dapat muncul tanpa harus melalui peperangan secara langsung. Serangan dapat dilakukan melalui ruang siber maupun penyebaran informasi yang bertujuan memecah belah masyarakat.
“Sekarang ancaman tidak hanya fisik. Kita bisa diserang dan sudah mulai diserang, melalui cyber, melalui disinformasi, melalui berita-berita bohong yang selalu ingin Indonesia dipecah belah, yang selalu ingin Indonesia gaduh,” ujarnya.
Tak hanya itu, Prabowo juga menyinggung ancaman terhadap sektor ekonomi dan kekayaan nasional. Ia menilai pencurian kekayaan Indonesia tidak bisa dipandang sebagai persoalan biasa karena berkaitan dengan kedaulatan negara.
“Ekonomi kita diganggu. Kekayaan kita dicuri. Pencurian di depan adalah ancaman terhadap bangsa Indonesia. Kekayaan kita kalau dicuri itu adalah ancaman bagi kedaulatan kita,” tegasnya.
Prabowo juga memasukkan penyelundupan dan narkotika dalam daftar ancaman yang harus diperhatikan. Menurut dia, peredaran narkotika dapat mengancam kelangsungan hidup bangsa.
“Penyelundupan ke dalam, narkotika adalah ancaman bagi kelangsungan hidup bangsa kita,” katanya.
Menghadapi kondisi tersebut, Prabowo meminta TNI tidak berhenti meningkatkan kemampuan. Prajurit diminta terus belajar dan berlatih agar mampu menghadapi perubahan bentuk ancaman.
“Perang sekarang belum tentu wujudnya fisik. Karena itu TNI harus terus menyesuaikan diri, belajar, belajar, belajar dan berlatih, berlatih, berlatih,” ujar Prabowo.
Ia menekankan masa damai tidak boleh membuat TNI mengendurkan kesiapsiagaan. Sebaliknya, kondisi tersebut harus dimanfaatkan untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan.
“Masa damai adalah persiapan menghadapi ancaman yang paling buruk sekalipun,” kata Prabowo.
Karena itu, Prabowo meminta TNI berkembang menjadi kekuatan yang profesional, responsif, modern, inovatif, dan adaptif. Penguasaan teknologi juga disebut menjadi kebutuhan penting bagi prajurit dalam menghadapi karakter ancaman yang terus berubah.
“TNI sekarang harus menguasai teknologi. TNI sekarang harus mengutamakan prestasi,” Tutupnya.