JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan sektor jasa keuangan Indonesia masih berada dalam kondisi stabil meski tekanan ekonomi global meningkat.
Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) September 2026 yang digelar OJK pada Senin (5/10/2026).
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan ketidakpastian geopolitik masih menjadi perhatian ekonomi dunia.
Pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan melambat dibandingkan tahun sebelumnya, meski proyeksinya lebih baik dari perkiraan sebelumnya.
Perbaikan prospek tersebut antara lain ditopang peningkatan investasi dan aktivitas perdagangan yang berkaitan dengan pengembangan teknologi artificial intelligence (AI).
Namun, prospek ekonomi global masih menghadapi sejumlah risiko yang dapat menghambat kesinambungan pertumbuhan.
Eskalasi konflik geopolitik kembali mendorong harga minyak sehingga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Selain itu, fenomena very strong El Nino berisiko meningkatkan harga pangan serta sejumlah komoditas pertanian.
Tekanan inflasi tersebut membuat sejumlah bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih panjang.
Friderica menyebut kebijakan higher for longer tercermin dari perkembangan suku bunga di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang.
Pasar bahkan masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada penghujung 2026 dan kemungkinan berlanjut hingga 2027.
Kondisi tersebut turut berdampak terhadap pasar obligasi pemerintah yang mencatat kenaikan imbal hasil.
Imbal hasil obligasi pemerintah di Amerika Serikat dan Eropa kembali berada pada level yang terakhir terlihat sebelum krisis 2008.
Sementara di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah telah kembali mendekati level yang tercatat sebelum 1997.
Kenaikan imbal hasil tersebut dipengaruhi kebutuhan pembiayaan pemerintah yang masih tinggi di berbagai negara.
Penerbitan obligasi berjangka panjang oleh perusahaan hyperscaler untuk mendukung investasi AI juga ikut memberikan tekanan pada pasar obligasi.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, kondisi perekonomian Indonesia justru menunjukkan sejumlah indikator yang tetap kuat.
OJK mencatat tingkat inflasi domestik masih terkendali sehingga turut menopang aktivitas ekonomi nasional.
Stabilnya inflasi menjaga daya beli masyarakat dan membuat permintaan domestik serta konsumsi tetap kuat.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Optimisme terhadap perekonomian nasional juga tercermin dari revisi proyeksi pertumbuhan Indonesia oleh OECD pada 2026.
OECD menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,5 persen dibandingkan perkiraan sebelumnya.
“Tentunya hal ini mencerminkan kepercayaan global terhadap daya tahan perekonomian nasional,” kata Friderica.
Menurut Friderica, perkembangan tersebut tidak terlepas dari kontribusi sektor keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Stabilitas sektor keuangan juga tetap terjaga dengan dukungan fundamental industri jasa keuangan yang dinilai masih solid.
Kondisi itu menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi ketidakpastian global dan perubahan arah kebijakan moneter dunia.***