Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegur keras Meta lantaran belum menyerahkan laporan penindakan terhadap akun pengguna anak di platform Threads. Pemerintah mendesak raksasa teknologi tersebut untuk bersikap kooperatif seperti halnya pada platform Instagram dan Facebook.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada data resmi maupun angka penindakan akun anak yang diserahkan Meta terkait aplikasi Threads.
“Untuk penonaktifan akun anak di Threads, belum ada laporan angka penindakan ataupun data apa pun yang diberikan kepada Komdigi. Kami meminta Meta untuk segera menunjukkan komitmen pemenuhan kewajibannya, terkhusus mengenai platform Threads,” ujar Meutya dalam konferensi pers di Kantor Komdigi, Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Evaluasi Pemblokiran: Ratusan Ribu Akun Diberangus
Dalam laporan terbarunya kepada pemerintah, Meta mencatat telah memblokir 85 ribu akun Instagram dan 99 ribu akun Facebook milik pengguna di bawah usia 16 tahun. Selain itu, Meta mengklaim telah mengalihkan sekitar 22,5 juta akun anak ke fitur khusus Teen Account.
Di saat yang sama, platform video pendek TikTok melaporkan telah menonaktifkan sedikitnya 9 juta akun anak di Indonesia.
Langkah tegas para pengelola platform ini merupakan tindak lanjut dari implemetasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas). Regulasi ini secara ketat membatasi akses platform digital berisiko tinggi bagi anak berusia 16 tahun ke bawah.
Fitur Masih Rawan, Meta Belum Masuk Kategori Risiko Rendah
Meski Meta telah melakukan serangkaian pemblokiran dan migrasi akun, Meutya menyatakan status Meta belum serta-merta turun menjadi platform berisiko rendah. Komdigi menemukan masih ada celah fitur yang membahayakan kesehatan fisik, mental, hingga keamanan anak.
“Kami menemukan Teen Account masih memiliki fitur komunikasi dengan orang asing yang tidak dikenal. Hal ini membuat platform tersebut belum bisa kami kategorikan sebagai platform berisiko rendah sebelum ada perubahan fitur yang menjawab risiko kontak, konten, kecanduan, serta kesehatan mental anak,” tegas Meutya.