JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat, 9 Oktober 2026, masih dibayangi tekanan jual investor asing, lonjakan harga minyak dunia, serta melemahnya keyakinan konsumen domestik.
IHSG sempat bergerak di zona hijau pada awal perdagangan, tetapi kemudian berfluktuasi di sekitar level psikologis 6.000.
Hingga pukul 09.27 WIB, IHSG tercatat naik tipis 1,96 poin atau 0,03 persen ke posisi 6.033,24.
Pergerakan tersebut terjadi setelah indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) tertekan 1,88 persen pada penutupan perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026, hingga berakhir di level 6.031.
Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan volatilitas pasar saham masih berlanjut seiring meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat kenaikan harga minyak mentah.
Level 6.000 Jadi Penentu Arah IHSG
Secara teknikal, IHSG diperkirakan kembali menguji area 6.000 yang menjadi level penting bagi pergerakan indeks dalam jangka pendek.
Tim Analis Phintraco Sekuritas menyampaikan, “Hari ini secara teknikal IHSG diprakirakan akan kembali akan menguji level kritikal di 6.000,” dalam analisisnya pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Apabila mampu bertahan di atas level tersebut dan kembali menguat, IHSG berpeluang membentuk pola double bottom yang menyerupai huruf W.
Pola teknikal tersebut dapat mengindikasikan potensi pembalikan arah dari tren pelemahan menuju penguatan, meskipun tetap membutuhkan konfirmasi pergerakan harga berikutnya.
Sebaliknya, jika IHSG ditutup di bawah 6.000, tekanan jual berpotensi berlanjut dengan area 5.800–5.900 menjadi sasaran penurunan berikutnya.
“Namun jika IHSG ditutup di bawah level 6.000, maka diperkirakan IHSG akan menguji level di 5800-5.900,” ucap Tim Phintraco.
Investor Asing Masih Lepas Saham
Tekanan terhadap IHSG juga tercermin dari aktivitas transaksi investor asing yang masih mencatatkan penjualan bersih atau net sell dalam perdagangan Kamis.
Nilai jual bersih saham asing mencapai Rp848,28 miliar, menambah tekanan terhadap pergerakan sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Saham yang paling banyak dilepas investor asing meliputi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
Aksi jual tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pelaku pasar ketika menilai peluang pemulihan IHSG di tengah ketidakpastian eksternal.
Keyakinan Konsumen Melemah, Penjualan Kendaraan Tumbuh
Dari dalam negeri, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia turun menjadi 118,1 pada September 2026, dibandingkan posisi 118,5 pada Agustus 2026.
Penurunan tersebut menunjukkan tingkat keyakinan konsumen sedikit melemah dibandingkan bulan sebelumnya, meskipun indeks masih berada di atas level 100.
Di sisi lain, penjualan mobil nasional masih mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 28,1 persen menjadi 79.450 unit pada September 2026.
Namun, laju pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 32,4 persen secara tahunan.
Secara kumulatif, penjualan mobil Indonesia tumbuh 21 persen hingga triwulan III 2026 dengan total mencapai 679.020 unit.
Pasar sepeda motor juga menunjukkan perkembangan positif setelah penjualan September meningkat 15,37 persen menjadi 654.343 unit.
Jumlah tersebut menjadi penjualan bulanan tertinggi sejak Oktober 2014, sekaligus mencatatkan pertumbuhan terkuat sejak Mei 2026.
Data kendaraan memberikan gambaran bahwa aktivitas konsumsi masih menunjukkan daya tahan, meskipun penurunan IKK menjadi salah satu indikator yang patut diperhatikan investor.
Harga Minyak Dunia Picu Kekhawatiran Pasar
Sentimen eksternal masih menjadi sumber tekanan utama bagi pasar saham setelah harga minyak mentah kembali melonjak akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz.
Minyak Brent ditutup menguat 4 persen ke level USD104 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 3,6 persen menjadi USD91 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap biaya energi, inflasi, serta potensi tekanan terhadap kinerja perusahaan yang bergantung pada bahan bakar.
Tim Analis Phintraco Sekuritas juga menyoroti ancaman Badai Isaias terhadap kegiatan produksi minyak lepas pantai Amerika Serikat di Teluk Meksiko sebagai faktor yang mendorong kenaikan harga komoditas energi.
“Kenaikan harga minyak juga disebabkan adanya ancaman Badai Isaias terhadap produksi lepas pantai AS di Teluk Meksiko,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas menutup analisisnya.
Bagi investor, perkembangan harga minyak, arah transaksi asing, serta kemampuan IHSG mempertahankan level 6.000 menjadi sejumlah faktor penting yang perlu dipantau sepanjang perdagangan.
Meski peluang pemulihan teknikal masih terbuka, risiko koreksi lanjutan tetap perlu diperhitungkan apabila tekanan jual meningkat dan indeks menembus batas dukungan tersebut.***