JAKARTA – Petenis Amerika Serikat, Coco Gauff, memutuskan mundur dari Wuhan Open setelah pekan yang berat, diwarnai tuduhan kecurangan saat melawan petenis China dan serangan bernada rasis di media sosial.
Keputusan petenis peringkat tiga dunia itu mengejutkan karena ia berstatus juara bertahan Wuhan Open, turnamen WTA 1000 yang menjadi salah satu agenda penting dalam kalender tenis putri.
Kronologi Kontroversi Coco Gauff
1. Insiden di pertandingan melawan Sun Xinran
Kontroversi bermula saat Gauff menghadapi petenis muda China, Sun Xinran, dalam babak 32 besar China Open, Senin (5/10/2026).
Gauff menghentikan reli karena merasa terganggu oleh papan iklan elektronik yang berkedip di sekitar lapangan, sehingga wasit memutuskan poin tersebut harus diulang.
Keputusan itu memicu perdebatan setelah Sun kehilangan kesempatan meraih poin penting, tetapi Gauff akhirnya menang dengan skor 7-5, 6-1.
2. Gauff melawan serangan rasis di media sosial
Setelah pertandingan, Gauff menerima banyak komentar bernada rasis dan pesan langsung yang menyerang dirinya akibat insiden tersebut.
Petenis berusia 22 tahun itu kemudian menegaskan bahwa perbedaan pendapat tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan diskriminasi rasial.
“Semua orang boleh tidak menyukai saya atau tidak setuju dengan kejadian itu tanpa bersikap rasis,” tulis Gauff di media sosial seperti dilansir The Mirror US, Jumat (9/10/2026).
“Jumlah komentar dan pesan langsung bernada rasis yang saya terima dalam beberapa jam terakhir sungguh luar biasa banyaknya,” lanjutnya.
“Terakhir, saya bukan penipu atau pencuri,” tegas Gauff dalam pembelaannya.
Gauff juga menjelaskan bahwa dirinya menghentikan permainan setelah melihat gangguan cahaya dan menyebut keputusan tersebut berkaitan dengan penerapan aturan pertandingan.
3. Kalah dari Elise Mertens di babak 16 besar
Tekanan yang muncul selama kontroversi itu diikuti kekalahan Gauff dari petenis Belgia, Elise Mertens, dengan skor 3-6, 3-6 pada Rabu (7/10/2026).
Dalam pertandingan tersebut, Gauff melakukan delapan kesalahan servis ganda dan mencatat 34 kesalahan tidak terpaksa, sehingga gagal melangkah ke perempat final China Open.
Gauff mengakui kondisi permainannya tidak maksimal dan mengaku kelelahan menghadapi situasi yang terjadi sepanjang pekan.
“Sejujurnya, semua ini cukup menguras energi,” kata Gauff saat menjelaskan dampak serangan di media sosial.
“Saya hanya mematikan ponsel dan melanjutkan hidup, karena tidak ada yang bisa dilakukan,” ujarnya setelah tersingkir dari turnamen tersebut.
Gauff batal tampil di Wuhan Open
Setelah tersingkir dari Beijing, Gauff mengumumkan pengunduran dirinya dari Wuhan Open yang berlangsung pada 12–18 Oktober 2026.
Keputusan itu membuat Gauff tidak dapat mempertahankan gelar yang diraihnya pada 2025, ketika ia mengalahkan Jessica Pegula di partai final.
“Saya kecewa harus mundur dari Wuhan, terutama karena saya adalah juara bertahan,” tulis Gauff dalam pernyataan yang disampaikan melalui penyelenggara turnamen.
“Saya selalu senang bermain di sana,” lanjutnya.
“Setelah menjalani tahun yang panjang, tubuh saya membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan diri,” kata Gauff.
“Saya berharap bisa kembali tahun depan,” tutupnya.
Wuhan Open merupakan turnamen kategori WTA 1000, level kompetisi penting di bawah Grand Slam, sehingga absennya Gauff menjadi sorotan tersendiri.
Meski kontroversi dan serangan rasis terjadi berdekatan dengan keputusannya mundur, Gauff secara resmi menyebut kebutuhan istirahat dan pemulihan sebagai alasannya.***