Bintang muda KTM Factory Racing, Pedro Acosta, melontarkan peringatan keras kepada pengelola ajang MotoGP untuk mengevaluasi tekanan berlebih terhadap para pebalap. Acosta menegaskan bahwa aturan baru terkait denda acara publisitas (public relations) berpotensi merusak iklim olahraga ini dan membuat para legenda enggan kembali ke paddock.
Sikap vokal Acosta mencuat di sela-sela gelaran GP Indonesia di Sirkuit Mandalika, menyusul laporan bahwa pengelola MotoGP mulai memberlakukan sanksi denda sebesar €5.000 (sekitar Rp85 juta) bagi pebalap yang absen dalam kegiatan promosi serta interaksi fans selama akhir pekan balapan.
Langkah tegas Dorna tersebut diambil setelah beberapa pebalap dinilai mulai kerap absen dalam agenda promosi, salah satunya insiden saat Marc Marquez menolak tampil dalam ajang balap gokart eksibisi menjelang Seri Jepang. Selain denda finansial, pebalap juga diancam sanksi sporadis jika kedapatan berulang kali mangkir.
Pasang Badan untuk Marquez dan Tekanan Fisik Pebalap
Menanggapi regulasi ketat tersebut, Acosta secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya dan mendukung sikap kritis yang sebelumnya diutarakan Marc Marquez.
Menurut pebalap asal Spanyol ini, pihak penyelenggara sering kali mengabaikan kondisi fisik serta risiko medis yang tengah dihadapi para pebalap di balik layar.
“Saya sangat tidak setuju. Anda tidak bisa memaksa pebalap melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan situasi di belakang layar yang mungkin tidak diketahui organisasi. Seperti Raul Fernandez hari ini, dia mengalami patah tulang jari yang digunakan untuk membalap. Dia harus merawat cedera itu karena jika tidak bisa memeriksanya, risikonya jauh lebih besar,” tegas Acosta.
Ia menambahkan bahwa penyelenggara seharusnya lebih fleksibel dan memberikan ruang bagi pebalap dalam situasi-situasi krusial.
“Penyelenggara harus lebih longgar dan memberi kami ruang bernapas. Apa yang dilakukan Marc di Jepang, saya sepenuhnya setuju,” lanjutnya.
Skeptis Asosiasi Pebalap dan Peringatan Soal Masa Depan MotoGP
Meningkatnya beban kerja komersial serta rencana pembaruan format akhir pekan balapan kerap memicu wacana pembentukan serikat atau asosiasi pebalap (riders’ union). Namun, Acosta mengaku skeptis hal tersebut dapat terwujud dalam waktu dekat.
Ia menilai ego serta kepentingan politik antartim dan pabrikan masih menjadi pengganjal utama terbentuknya wadah tunggal bagi para pebalap.
Setiap pebalap, tim, hingga brand memiliki agenda masing-masing yang sulit disatukan. Tekanan mental serta jadwal yang makin padat diprediksi akan memangkas durasi karier para pebalap di kelas utama.
“Momen pembentukan asosiasi itu seharusnya tiba, tapi saya pikir tidak akan pernah terjadi karena semua orang fokus pada kepentingan masing-masing. Akibat tekanan yang terlalu tinggi ini, karier pebalap akan makin singkat. Kita akan melihat para legenda meninggalkan paddock dan bahkan tidak ingin kembali lagi. Saya berharap kondisi ini bisa membaik,” pungkas Acosta.