JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan tajam pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10/2026).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 11,27 persen dan rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengubah status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
IHSG Merosot Lebih dari 660 Poin
IHSG berada di level 5.203,19 pada pukul 09.30 WIB, terkoreksi 660,59 poin atau 11,27% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pada awal perdagangan pukul 09.00 WIB, indeks dibuka di posisi 5.393,92 atau melemah 8,01%, sebelum tekanan jual semakin besar hingga membawa IHSG menyentuh level terendah 5.193,22.
Sementara itu, posisi tertinggi IHSG pada sesi pagi tercatat di 5.404,51, dengan volume transaksi mencapai 61,6 juta lot dan nilai perdagangan sebesar Rp1,73 triliun.
Sektor Infrastruktur Paling Tertekan
Pelemahan IHSG terjadi secara luas, dengan sektor infrastruktur mengalami koreksi terdalam sebesar 13,9%, disusul sektor energi yang merosot 11% dan sektor material dasar yang turun 8,7%.
Sejumlah saham yang membebani pergerakan indeks antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR).
Di tengah tekanan pasar, beberapa saham masih memberikan kontribusi penahan penurunan, termasuk PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD).
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS
Tekanan juga melanda pasar valuta asing ketika rupiah dibuka melemah 0,33% ke posisi Rp17.980 per dolar AS pada Jumat pagi, berdasarkan data Refinitiv.
Pelemahan berlanjut hanya dalam dua menit perdagangan, dengan rupiah terdepresiasi 0,45% hingga menyentuh Rp18.000 per dolar AS pada pukul 09.02 WIB.
Pergerakan tersebut memperpanjang tren pelemahan rupiah setelah pada Kamis, 15 Oktober 2026, mata uang domestik ditutup turun 0,14% ke level Rp17.920 per dolar AS, setelah sempat menyentuh Rp17.957.
Rencana MSCI Menjadi Sorotan Investor
Salah satu sentimen yang membayangi pasar adalah rencana MSCI mengevaluasi klasifikasi Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar mandiri atau Standalone Market.
Rencana tersebut masih dalam tahap konsultasi dan belum menjadi keputusan final, dengan batas penyampaian masukan dari pelaku pasar pada 30 April 2027 serta pengumuman keputusan akhir paling lambat 30 Juni 2027.
“MSCI akan mengumumkan keputusan akhir pada akhir Juni 2027 dan mungkin memberikan pembaruan sementara mengenai tanggapan peserta pasar selama periode konsultasi,” tulis MSCI dalam pengumumannya, dikutip Jumat (16/10/2026).
MSCI menyoroti sejumlah persoalan yang dinilai memengaruhi kelayakan investasi di pasar Indonesia, mulai dari transparansi struktur kepemilikan saham hingga dugaan praktik perdagangan terkoordinasi dan efektivitas penegakan aturan.
Perubahan Indeks Saham Indonesia Masih Dibekukan
Selama proses konsultasi berlangsung, MSCI mempertahankan pembatasan terhadap sejumlah perubahan indeks untuk saham Indonesia.
Kebijakan tersebut mencakup tidak menaikkan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), tidak menambahkan saham baru ke MSCI Indonesia Investable Market Index, serta tidak menaikkan saham ke segmen indeks yang lebih tinggi.
Pembatasan tersebut menjadi perhatian investor karena indeks MSCI digunakan oleh sejumlah pengelola dana global sebagai acuan dalam menyusun portofolio investasi.
Ketidakpastian mengenai status pasar saham Indonesia berpotensi membuat investor asing lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di aset domestik.
Jika kekhawatiran tersebut memicu penjualan saham dan arus modal keluar, permintaan terhadap dolar AS dapat meningkat sehingga menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Meski demikian, rencana perubahan klasifikasi MSCI merupakan salah satu sentimen yang memengaruhi pasar dan belum dapat dipastikan sebagai satu-satunya penyebab kejatuhan IHSG maupun pelemahan rupiah.
Pergerakan selanjutnya akan bergantung pada respons investor, perkembangan konsultasi MSCI, serta kondisi pasar keuangan global dan domestik.***