JAKARTA – Gelombang demonstrasi yang menyoroti kenaikan biaya hidup melanda sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis, Italia, Belgia, dan Portugal. Aksi yang berlangsung pada Sabtu (17/10/2026) itu dipicu oleh tekanan ekonomi, mahalnya kebutuhan sehari-hari, persoalan perumahan, serta tuntutan terhadap layanan publik yang lebih baik.
Meski berlangsung di negara berbeda dengan tuntutan yang tidak sepenuhnya sama, para demonstran menyuarakan keresahan mengenai kondisi kehidupan masyarakat. Di Prancis, aksi yang melibatkan mahasiswa dan berbagai kelompok masyarakat berkembang menjadi kerusuhan di sejumlah kota.
Reuters melaporkan, lebih dari 550.000 orang mengikuti demonstrasi di berbagai wilayah Prancis pada Sabtu. Namun, sebagian aksi diwarnai bentrokan, penjarahan, dan perusakan fasilitas umum.
Prancis Catat Ratusan Ribu Demonstran
Situasi di Prancis menjadi salah satu yang paling mendapat perhatian. Demonstrasi yang awalnya berkaitan dengan kenaikan biaya hidup dan memburuknya layanan publik berubah ricuh di sejumlah lokasi.
Polisi menghadapi bentrokan dengan kelompok demonstran, sementara sejumlah toko dan bangunan publik mengalami kerusakan. Balai kota Limoges juga terbakar dalam rangkaian kerusuhan tersebut.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez menyebut sekitar 2.400 orang telah ditangkap hingga Minggu (18/10/2026). Hampir 1.000 personel kepolisian dilaporkan mengalami luka-luka, sementara seorang demonstran meninggal dunia setelah mengalami henti jantung ketika aksi berlangsung di Paris.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan masyarakat untuk tetap tenang. Ia juga membedakan aksi damai yang menyampaikan aspirasi dengan tindakan kekerasan dan perusakan.
Italia dan Belgia Diwarnai Bentrokan
Di Italia, demonstrasi berlangsung di sejumlah kota, termasuk Milan dan Bologna. Aksi yang mengangkat persoalan ekonomi dan kenaikan biaya hidup tersebut sempat diwarnai bentrokan antara demonstran dan polisi.
Di Milan, aparat menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kelompok yang melemparkan benda ke arah petugas serta membakar penghalang jalan. Sejumlah toko juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Sementara itu, di Belgia, bentrokan terjadi di Brussel dan Liège. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air ketika situasi demonstrasi memanas. Aksi tersebut turut berkaitan dengan keresahan mengenai biaya hidup dan kenaikan biaya pendidikan.
Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin mengkritik tindakan kekerasan yang terjadi selama demonstrasi. Pemerintah setempat menghadapi tuntutan agar persoalan yang menjadi sumber keresahan masyarakat turut diperhatikan.
Krisis Perumahan Jadi Sorotan di Portugal
Di Portugal, puluhan ribu orang turun ke jalan di Lisbon untuk memprotes kenaikan biaya hidup, rendahnya upah, serta semakin sulitnya masyarakat mendapatkan hunian yang terjangkau.
Menurut laporan Reuters pada 17 Oktober 2026, serikat pekerja terbesar Portugal, CGTP, menjadi pihak yang menyerukan demonstrasi tersebut. Para peserta menuntut perbaikan upah, jaminan pensiun, layanan publik, serta kebijakan perumahan yang lebih berpihak kepada masyarakat.
Tekanan ekonomi di Portugal terlihat dari kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dan perumahan. Inflasi negara tersebut mencapai 3,6 persen pada September 2026, didorong antara lain oleh kenaikan harga makanan dan bahan bakar.
Harga rumah di Portugal juga telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017, sedangkan harga sewa untuk kontrak baru hampir mengalami kenaikan serupa. Kondisi tersebut menambah beban masyarakat, terutama kelompok muda dan pekerja berpenghasilan terbatas.
Kenaikan Harga Menekan Daya Beli
Keresahan yang muncul di berbagai negara Eropa menunjukkan tekanan yang dirasakan rumah tangga ketika biaya kebutuhan pokok, tempat tinggal, dan energi meningkat sementara pendapatan tidak selalu bertambah dengan kecepatan yang sama.
Data Eurostat yang dianalisis Euronews menunjukkan harga makanan dan minuman nonalkohol di Uni Eropa meningkat 34 persen antara Agustus 2021 dan Agustus 2026.
Meski demikian, gelombang demonstrasi tersebut bukan satu gerakan terpusat dengan tuntutan yang seragam. Setiap negara memiliki persoalan domestik tersendiri, mulai dari biaya pendidikan dan layanan publik hingga upah serta keterjangkauan perumahan.
Rangkaian aksi ini memperlihatkan bagaimana persoalan daya beli dan biaya hidup menjadi perhatian besar masyarakat Eropa. Pemerintah di negara-negara terkait kini menghadapi tekanan untuk merespons tuntutan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keamanan selama demonstrasi berlangsung.