JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) mengembangkan metode prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mempercepat distribusi makanan sekaligus menjaga kualitas hidangan yang diterima siswa.
Sistem ini disiapkan sebagai alternatif pembagian makanan menggunakan kotak makan yang selama ini digunakan dalam pelaksanaan program MBG di sekolah.
Juru Bicara BGN, Tysa Novenny, menjelaskan bahwa gagasan tersebut turut berkembang dari berbagai masukan masyarakat yang menginginkan penerapan metode serupa di sejumlah negara.
Jepang, Korea Selatan, dan Finlandia menjadi beberapa negara yang dijadikan referensi dalam pembahasan sistem penyajian makanan bergizi di lingkungan sekolah.
“Akhirnya, pada akhir September, tepatnya tanggal 23 September, kami mengadakan audiensi dengan Japan International Cooperation Agency (JICA),” ungkap Tysa dalam keteranganya, Selasa (27/10/2026).
Melalui pertemuan tersebut, BGN memperoleh masukan mengenai kemungkinan penerapan metode prasmanan sebagai bagian dari pengembangan layanan MBG.
Waktu Konsumsi Ditargetkan Lebih Singkat
Salah satu tujuan utama metode prasmanan adalah memangkas jeda antara makanan selesai dimasak dan waktu dikonsumsi oleh penerima manfaat.
BGN menargetkan rentang waktu tersebut dapat dipersingkat dari sekitar empat jam menjadi dua jam sehingga makanan lebih terjaga kesegaran dan kehangatannya.
“Jadi, makanannya lebih segar, lebih hangat, dan juga mengurangi kontaminasi makanan.”
Selain meningkatkan kualitas hidangan, metode ini diharapkan dapat menekan risiko kontaminasi selama proses penanganan, pengemasan, pengiriman, hingga penyajian makanan.
Bagaimana Sistem Prasmanan MBG Bekerja?
Dalam skema ini, nasi, lauk-pauk, dan sayuran ditempatkan dalam wadah khusus setelah proses memasak selesai, kemudian dikirim ke sekolah untuk disajikan kepada siswa.
Berbeda dengan sistem kotak makan, makanan tidak perlu dikemas satu per satu sebelum dikirim sehingga proses penyiapan porsi diharapkan menjadi lebih praktis.
Meski demikian, pengelola tetap perlu memastikan kebersihan wadah, peralatan penyajian, serta penanganan makanan selama perjalanan hingga dikonsumsi siswa.
Uji Coba Catat Nol Insiden Keamanan Pangan
Lebih lanjut Tysa mengungkapkan bahwa uji coba tahap pertama pada awal hingga pertengahan Oktober mencatat nol insiden keamanan pangan dengan skor kepuasan mencapai 4,5 dari 5.
Hasil tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi untuk menilai kelayakan metode prasmanan sebelum penerapannya dikembangkan lebih lanjut.
Namun, pelaksanaan di sekolah masih menghadapi tantangan berupa waktu persiapan yang berkisar 30–45 menit.
Durasi tersebut mencakup pengantaran makanan ke kelas, penyiapan lokasi penyajian, serta penggunaan alat pelindung diri oleh petugas.
BGN Benahi Proses Penyajian di Sekolah
BGN berupaya memangkas waktu persiapan di sekolah agar siswa dapat menikmati makanan tanpa menunggu terlalu lama.
Percepatan tersebut tetap harus diimbangi dengan penerapan standar kebersihan, keamanan pangan, dan pemenuhan kebutuhan gizi sesuai ketentuan program MBG.
Dengan demikian, keberhasilan sistem prasmanan tidak hanya diukur dari kecepatan penyajian, tetapi juga dari kualitas makanan dan keamanan pangan yang diterima siswa.***