JAKARTA – Sejak 7 Oktober 2023, Agresi Israel di Gaza telah menyebabkan kehancuran besar pada berbagai fasilitas publik di wilayah tersebut. Banyak sekolah, rumah sakit, pembangkit listrik, dan pemukiman hancur akibat serangan yang semakin brutal. Selain itu, fasilitas ibadah seperti masjid dan gereja juga turut menjadi sasaran serangan. Mengingat jumlah gereja di Gaza yang lebih sedikit dibandingkan masjid, kerusakan ini semakin mengkhawatirkan.
Berikut adalah beberapa gereja di Gaza yang dihancurkan Israel, sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia.
Gereja Orthodox St Porphyrius
Gereja St Porphyrius menjadi salah satu target serangan Israel, yang sengaja mengincar tempat ini karena banyaknya pengungsi Palestina yang berlindung di sana. “Itu adalah rudal roket yang sangat besar. Bahkan, orang-orang yang berada di aula lain pun keluar dalam bentuk debu putih,” ujar Rami Tarazi, salah seorang pengungsi. “Kami mengeluarkan 16 orang dalam kondisi terpotong-potong dan dua mayat utuh,” tambahnya, seperti dikutip dari BBC.
Selain sebagai tempat ibadah, gereja ini juga berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi warga Palestina yang beragama Kristen. Menurut Middle East Monitor, sekitar 1.000 umat Kristiani di Gaza memiliki hubungan kuat dengan gereja tersebut.
Gereja Keluarga Kudus
Dua bulan setelah menyerang Gereja St Porphyrius, Israel kembali menyerang Gereja Keluarga Kudus pada Desember 2023. Beberapa tank pasukan Zionis menembakkan rudal ke bagian-bagian gereja, menyebabkan kebakaran besar dan menghancurkan satu-satunya generator yang menjadi sumber listrik gereja. Saat serangan terjadi, sekitar 54 warga Kristen tengah berlindung di dalam gereja. Banyak dari mereka yang merasa putus asa, khawatir tidak dapat merayakan Natal bersama keluarga mereka. “Saya sekarang tidak yakin lagi apakah mereka akan bertahan sampai Natal,” ujar salah satu pengungsi, Moran, seperti dilansir BBC.
Gereja Baptis Gaza
Gereja Baptis Gaza, satu-satunya gereja baptis di wilayah tersebut, juga menjadi sasaran serangan Israel pada 26 Desember 2023, sehari setelah Hari Raya Natal. Serangan rudal Israel menghancurkan seluruh bangunan gereja, padahal saat itu ada sekitar 70 orang yang berlindung di sana. “Kami sangat sedih melihat gambar-gambar ini. Saat kami membangun gedung ini selangkah demi selangkah di awal tahun 2000,” kata Hanna Massad, salah satu pendeta Kristen di Gereja Baptis Gaza, seperti dikutip dari World and Way. “Tempat ini telah menjadi mercusuar cahaya bagi banyak orang untuk mengenal Tuhan di Gaza, dan kami berdoa agar tempat ini terus menjadi berkat bagi komunitas kami,” lanjutnya.
Serangan Israel terhadap fasilitas ibadah di Gaza telah mendapat kecaman dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), mengingat gereja merupakan objek yang tidak boleh diserang secara langsung dalam konflik bersenjata, sesuai hukum internasional. Meski demikian, serangan terhadap fasilitas ibadah, termasuk gereja, terus berlanjut hingga kini.
