JAKARTA – Tokoh pers Indonesia, Atmakusumah Astraatmadja yang berusia 86 tahun meninggal dunia pada Kamis (2/1) pukul 13.05 WIB. Atmakusumah mengembuskan napas terakhir setelah beberapa waktu menjalani perawatan intensif di Unit Perawatan Intensif (ICU) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana Jakarta.
Putra kedua almarhum, Rama Ardana Astraatmadja mengungkapkan bahwa ayahnya dirawat di ICU lantai 3 RSCM Kencana akibat gagal ginjal. “Mohon doa bagi ayah, semoga amal dan perbuatan selama hidupnya dikenang dan bermanfaat bagi semua yang ditinggalkan,” ujar Rama dalam keterangan tertulis yang diterima pada hari yang sama.
Rama juga menyampaikan terima kasih kepada tim medis di RSCM yang telah memberikan perawatan intensif menggunakan alat terapi untuk mendukung fungsi ginjal, yakni Continues Renal Replacement Therapy (CRRT).
Atmakusumah, yang akrab disapa Atma, lahir pada 20 Oktober 1938 di Labuan, Banten dari keluarga Joenoes Astraatmadja yang dikenal sebagai pejabat pemerintah di wilayah Bekasi.
Atmakusumah dan istrinya, Sri Rumiati, dikaruniai tiga anak: Kresnahutama Astraatmadja alias Tamtam, seorang produser film dan pendiri Pikser Indonesia Production di Jakarta; Rama Ardana Astraatmadja, produser film dan penyunting buku di Yogyakarta; serta Tri Laksmana Astraatmadja, seorang doktor astrofisika partikel di Baltimore, AS.
Atmakusumah dikenal luas sebagai Ketua Dewan Pers periode 2000-2003, sebuah lembaga yang merupakan hasil dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, yang menegaskan independensinya. Dewan Pers pada masa itu pertama kali dipimpin oleh seorang tokoh masyarakat, sebuah perubahan signifikan dari era sebelumnya yang dipimpin oleh Menteri Penerangan.
Karier jurnalistik Atmakusumah dimulai pada usia muda pada harian Indonesia Raya pada 1950an, sebelum akhirnya berhenti pada 1958. Ia kembali bergabung dengan harian tersebut pada 1968, tapi kembali dibredel oleh pemerintah Orde Baru pada 1975, seiring dengan pemberitaan tentang Malapetaka 15 Januari (Malari).
Selain itu, Atmakusumah juga berkarier sebagai koresponden untuk Pers Biro Indonesia (PIA) pada 1960 yang kemudian menjadi bagian dari Kantor Berita Antara pada 1962. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Serikat Pekerja Antara pada 1966-1968.
Atmakusumah turut berperan penting sebagai komentator isu dalam negeri dan luar negeri di berbagai media, termasuk Radio Republik Indonesia (RRI), Radio Australia (ABC) di Melbourne, Radio Jerman (Deutsche Welle), serta sebagai asisten pers dan spesialis di Layanan Informasi Amerika Serikat (USIS) dari 1974 hingga 1992.
Semangatnya dalam pendidikan jurnalistik dan hubungan masyarakat semakin menguat ketika ia menjadi pengajar dan Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dokter Soetomo (LPDS) pada 1993-2002. Hingga akhir hayatnya, Atmakusumah masih mengelola kanal Atma Menjawab yang membahas kasus-kasus jurnalistik di situs resmi LPDS.
Selain aktif menulis, Atmakusumah juga menyunting berbagai buku, termasuk Tahta untuk Rakyat yang mengisahkan Sultan Hamengku Buwono IX. Ia turut menyunting belasan buku tentang dunia jurnalistik dan hubungan masyarakat.
Atmakusumah dianugerahi berbagai penghargaan, antara lain Anugerah Ramon Magsaysay pada 31 Agustus 2000 untuk kategori Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif, serta Medali Emas Kemerdekaan Pers pada 2011. Ia juga menerima Anugerah Pengabdian Sepanjang Hayat dari Dewan Pers pada 2023.
