JAKARTA – Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) melaporkan lonjakan kasus tularemia, atau demam kelinci, sebesar 56 persen dalam satu dekade terakhir. Data ini dirilis berdasarkan analisis periode 2011–2022 dibandingkan dengan 2001–2010.
Menurut laporan Medical Daily, demam kelinci adalah penyakit zoonosis langka namun serius yang disebabkan oleh bakteri Francisella tularensis.
Penyakit ini dapat ditularkan melalui gigitan serangga, kontak langsung dengan hewan terinfeksi, inhalasi aerosol yang tercemar, atau konsumsi air terkontaminasi. Namun, penyakit ini tidak menular antar manusia.
Tularemia dapat menyerang berbagai organ, termasuk kelenjar getah bening, kulit, mata, paru-paru, dan saluran pencernaan.
Gejala utamanya mencakup demam, pembengkakan kelenjar getah bening, tukak kulit, sakit tenggorokan, dan infeksi mata. Pada kasus yang parah, infeksi dapat menyebabkan pneumonia, peradangan otak, hingga gangguan jantung.
Meski belum tersedia vaksin, penyakit ini dapat diobati dengan antibiotik. Namun, jika tidak ditangani, tingkat kematian dapat melebihi dua persen, tergantung pada jenis bakteri penyebab.
“Selama 2011–2022, 47 negara bagian mencatat 2.462 kasus tularemia, dengan insiden 0,064 per 100.000 penduduk. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 56 persen dibandingkan dekade sebelumnya,” ujar CDC.
Kasus terbanyak ditemukan pada anak-anak usia 5–9 tahun, pria lanjut usia, serta penduduk Indian Amerika atau Penduduk Asli Alaska (AI/AN), yang memiliki insiden lima kali lebih tinggi dibandingkan populasi kulit putih.
Empat negara bagian menjadi penyumbang setengah dari kasus tularemia di AS, dengan Arkansas mencatat 18 persen kasus, diikuti Kansas dan Missouri masing-masing 11 persen, serta Oklahoma sebesar 10 persen.
Mayoritas pasien adalah orang kulit putih (84 persen), diikuti AI/AN (9 persen), Hispanik atau Latino (5 persen), Kulit Hitam atau Afrika-Amerika (2 persen), dan Asia atau Penduduk Kepulauan Pasifik (1 persen).
CDC menduga peningkatan kasus disebabkan oleh lebih banyak orang yang terinfeksi atau sistem kesehatan yang kini lebih baik dalam mengidentifikasi penyakit ini.
CDC pun menekankan pentingnya peningkatan kesadaran di kalangan tenaga kesehatan, terutama mereka yang bekerja dengan komunitas suku, untuk memastikan diagnosis dan pengobatan tularemia yang cepat dan tepat.