IKN – Bandara Internasional Nusantara, yang menjadi penunjang Ibu Kota Nusantara (IKN), baru saja mencatatkan prestasi besar dengan terdaftarnya di Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).
Bandara ini kini memiliki kode ICAO resmi, yakni WALK. Meskipun demikian, Bandara Internasional Nusantara belum terdaftar di Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional (IATA), yang memiliki kode tiga huruf yang lebih populer di kalangan masyarakat.
ICAO dan IATA adalah dua jenis kode yang diakui dalam dunia penerbangan internasional. Kode ICAO digunakan untuk keperluan operasional pesawat terbang dan pengaturan lalu lintas udara, sementara kode IATA lebih dikenal luas sebagai pengidentifikasi bandara di seluruh dunia, sering digunakan dalam reservasi tiket dan penanganan bagasi. Kode IATA juga lebih melekat pada tiap bandara, memberikan identitas yang mudah dikenali oleh penumpang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun melalui situs resmi Kementerian Perhubungan (hubud.dephub.go.id), Bandara Internasional Nusantara kini tercatat dengan kode ICAO WALK, yang terdiri dari empat digit alfanumerik yang dikeluarkan oleh ICAO untuk setiap bandara di dunia. Kode ini penting untuk keperluan operasional oleh pengatur lalu lintas udara dan maskapai penerbangan.
Namun, meskipun telah mendapatkan kode ICAO, Bandara Internasional Nusantara masih belum memiliki kode IATA, yang terdiri dari tiga huruf. Sebagai contoh, Bandara SAMS Sepinggan di Balikpapan memiliki kode ICAO WALL dan kode IATA BPN, sementara Bandara APT Pranoto di Samarinda memiliki kode ICAO WALS dan kode IATA AAP.
Berada di bawah pengelolaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Bandara Internasional Nusantara berlokasi di Kelurahan Sepaku, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Bandara ini juga didukung oleh fasilitas penerbangan yang lengkap, termasuk landasan pacu dan fasilitas penghubung lainnya.
Fasilitas Utama Bandara Internasional Nusantara
Bandara ini memiliki berbagai fasilitas udara yang tengah dalam tahap pengembangan. Di antaranya adalah Runway 1, yang memiliki panjang terverifikasi 2.200 meter dengan lebar 45 meter, lebih panjang dibandingkan dengan dimensi awal yang hanya 1.750 meter x 30 meter. Ini menandakan adanya peningkatan kapasitas, dengan pesawat kritis yang dapat mendarat seperti Boeing 737-800.
Selain itu, ada juga dua Taxiway yang menghubungkan landasan pacu dengan terminal, serta Apron 1 yang luasnya mencapai 30.780 meter persegi, memadai untuk sejumlah pesawat. Runway End Safety Area (RESA) yang baru saja diperluas menjadi 8.100 meter persegi, bertujuan untuk meningkatkan keselamatan penerbangan. Begitu juga dengan Strip 1, yang memiliki area terverifikasi seluas 649.600 meter persegi, menunjukkan adanya ekspansi signifikan dibandingkan area sebelumnya yang hanya seluas 280.500 meter persegi.
Persiapan Pengajuan Pendaftaran IATA
Meskipun Bandara Internasional Nusantara telah terdaftar di ICAO, proses pendaftaran di IATA masih berjalan. Menteri Perhubungan pada Juni 2024 lalu, Budi Karya Sumadi, menyampaikan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan pendaftaran bandara ini agar bisa memiliki kode IATA, yang diusulkan sebagai NAP atau kode lain yang belum terpakai.
“Proses pendaftaran internasional Bandara Nusantara Airport sudah kami mulai, dan setelah nama bandara diputuskan, kami akan mengajukan pendaftaran ke ICAO dan IATA. Nanti, bandara ini akan memiliki kode seperti Soekarno-Hatta yang memakai CGK atau Bandara Kualanamu dengan KMO,” jelas Budi Karya Sumadi saat itu.
Dengan fasilitas yang terus berkembang dan langkah-langkah untuk mendapatkan kode IATA, Bandara Internasional Nusantara semakin siap menjadi pintu gerbang utama bagi Ibu Kota Nusantara, serta mendukung konektivitas global Indonesia di dunia penerbangan internasional.