JAKARTA – Minggu ini, warga Palestina yang kembali ke Kota Gaza disambut dengan pemandangan kota yang hancur, setelah 15 bulan konflik yang menghancurkan sebagian besar kota. Banyak yang terpaksa mencari perlindungan di tengah reruntuhan, sementara yang lain berusaha menemukan anggota keluarga yang hilang selama kepulangan yang penuh kekacauan.
Kota Gaza, yang dulunya merupakan pusat perkotaan yang sibuk di bagian utara Jalur Gaza, kini tampak seperti bayangan dari keadaan sebelumnya. Bangunan-bangunan hancur akibat serangan udara Israel, menyisakan timbunan puing dan beton yang runtuh.
“Lihatlah pemandangan ini, tidak ada yang bisa dikatakan,” kata Abu Mohammad, seorang warga yang mencari tempat untuk menetap, dilansir dari Reuters. “Orang-orang akan tidur di tanah. Tidak ada yang tersisa.”
Ribuan orang yang kembali, membawa barang-barang yang berhasil mereka selamatkan, berjalan sepanjang jalan raya pesisir lebih dari 20 kilometer menuju kota tersebut. Jameel Abed, yang berjalan dari Gaza tengah, mengatakan, “Saya sedang menunggu ayah, ibu, dan saudara saya. Kami kehilangan mereka di perjalanan. Kami menemukan beberapa cahaya di sini dan sedang menunggu mereka.”
Hingga Senin sore, pihak berwenang Hamas di Gaza melaporkan lebih dari 300.000 pengungsi telah menyeberang ke Kota Gaza, sementara yang lainnya masih bergerak ke utara saat mediator mulai mempersiapkan fase kedua pembicaraan gencatan senjata yang dijadwalkan minggu depan.
Di bawah perjanjian gencatan senjata yang telah berlangsung selama enam minggu, sandera dipertukarkan dengan tahanan Palestina. Pada Kamis, tiga sandera Israel diharapkan akan diserahkan oleh Hamas, dengan tiga lainnya dijadwalkan pada Sabtu, sebagai imbalan untuk pembebasan tahanan Palestina dari penjara Israel.
Di Kairo, pejabat Hamas yang dipimpin oleh Mohammad Darwish bertemu dengan mediator Mesir untuk membahas upaya perdamaian yang sedang berlangsung serta dugaan pelanggaran Israel terhadap perjanjian gencatan senjata. Mereka juga mengeksplorasi ide untuk persatuan Palestina, termasuk proposal untuk membentuk sebuah komite yang akan mengawasi pemulihan Gaza pasca-perang.
Meski pembicaraan ini berlangsung, perpecahan politik antara Hamas, yang telah memerintah Gaza sejak 2007, dan Otoritas Palestina yang dipimpin oleh Presiden Mahmoud Abbas tetap belum terselesaikan, menyulitkan upaya pembentukan pemerintahan Palestina yang bersatu.
Fase kedua pembicaraan gencatan senjata akan fokus pada penyelesaian nasib lebih dari 60 sandera dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza. Jika berhasil, ini dapat mengarah pada berakhirnya perang dan membuka jalan untuk rekonstruksi Gaza, meskipun jalan yang akan ditempuh masih belum pasti.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan dari pihak garis keras dalam pemerintahannya untuk menolak pembicaraan lebih lanjut dan melanjutkan aksi militer, dengan alasan kekhawatiran atas kendali Hamas yang masih ada di Gaza. Namun, pejabat Hamas, Sami Abu Zuhri, menyatakan keyakinannya bahwa pembicaraan akan berlangsung sesuai rencana, dengan mengatakan, “Kami siap memulai pembicaraan untuk fase kedua pada waktu yang ditentukan dan yakin Netanyahu tidak punya pilihan selain melanjutkan fase kedua.”
Masa depan jangka panjang Gaza masih belum jelas, terutama dengan ketegangan yang terus berlanjut terkait peran Hamas dalam pemerintahan dan proposal kontroversial, seperti usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk merelokasi warga Palestina ke Mesir atau Yordania.