WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menetapkan tarif impor sebesar 25% untuk baja dan aluminium. Pengumuman ini disampaikan langsung di Gedung Putih pada Senin malam waktu setempat atau Selasa pagi (11/2/2025).
“Hari ini saya menyederhanakan tarif kami untuk baja dan aluminium. Bebannya 25% tanpa pengecualian atau pembebasan,” ujar Trump di Ruang Oval saat menandatangani perintah eksekutif, dikutip AFP.
Trump juga mengisyaratkan kemungkinan penerapan tarif tambahan pada sektor lain, seperti otomotif, farmasi, dan chip komputer.
Kebijakan ini berdampak luas bagi negara-negara yang mengekspor dua komoditas tersebut ke AS.
Data pemerintah dan American Iron and Steel Institute mencatat bahwa Kanada, Brasil, Meksiko, Korea Selatan (Korsel), serta Vietnam merupakan pemasok baja utama bagi AS.
Kanada, sebagai pemasok terbesar aluminium primer ke AS, menyuplai 79% dari total impor logam tersebut dalam 11 bulan pertama tahun 2024.
Dampak kebijakan ini juga dirasakan oleh negara-negara Eropa, termasuk Jerman, yang merupakan eksportir baja besar ke AS. Namun, Thyssenkrupp, salah satu produsen baja terbesar di Eropa, menilai dampaknya terhadap bisnis mereka akan terbatas.
“Mayoritas penjualan Thyssenkrupp di AS berasal dari bisnis perdagangan dan bisnis pasokan otomotif,” kata seorang juru bicara melalui email, dikutip CNBC International.
“Pada prinsipnya, Thyssenkrupp memiliki posisi yang baik dalam bisnis-bisnis ini di AS dengan pangsa manufaktur lokal yang signifikan untuk pasar lokal. Sebagian besar produksi untuk pelanggan AS dilakukan di AS,” tambahnya.
Di Asia, selain Korsel dan Vietnam, Jepang serta Taiwan juga diperkirakan akan terdampak oleh kebijakan tarif baru.
Impor baja AS dari Vietnam meningkat lebih dari 140% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara Taiwan mencatat kenaikan ekspor baja sebesar 75% pada 2024.
AS sendiri tentu menjadi pihak yang paling diuntungkan dari kebijakan ini. Data resmi menunjukkan bahwa impor baja AS turun 35% dalam satu dekade terakhir, meskipun impor aluminium meningkat 14% dalam periode yang sama.
Analis CRU, James Campbell, memperkirakan kebijakan tarif ini akan berdampak bervariasi terhadap ekonomi AS.
“Pada awalnya, ini dapat merusak permintaan,” katanya.
“Dalam jangka panjang, kita dapat melihat investasi masuk,” ujarnya.
Selain AS, Australia juga diprediksi mendapat keuntungan dari kebijakan tarif ini karena mencatat surplus perdagangan dengan AS.
“Kami memiliki surplus (perdagangan) dengan Australia, salah satu dari sedikit surplus,” ujar Trump.
“Dan alasannya adalah mereka membeli banyak pesawat terbang. Mereka agak jauh dan membutuhkan banyak pesawat terbang,” tambahnya.
Pernyataan Trump ini sejalan dengan komentar Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, yang menyatakan bahwa pengecualian tarif sedang dipertimbangkan demi kepentingan kedua negara.
“Presiden AS setuju bahwa pengecualian sedang dipertimbangkan demi kepentingan kedua negara kita,” ujarnya dalam pembicaraan telepon sebelum pengumuman Trump.
