JAKARTA – Pemerintah diminta untuk menjalankan Instruksi Presiden (Inpres) terkait Irigasi dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan prioritas yang jelas.
Hal ini disampaikan oleh Rina Sa’adah, anggota Komisi IV DPR RI, yang menekankan pentingnya strategi efisiensi anggaran, mengingat terbatasnya sumber daya negara.
Rina menilai bahwa penanganan jaringan irigasi harus fokus pada daerah-daerah lumbung pangan untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
“Pemerintah sebaiknya memprioritaskan penanganan jaringan irigasi di daerah lumbung pangan serta melibatkan secara aktif kelompok petani pengguna air.”
“Dengan demikian, anggaran yang tersedia dapat digunakan secara efektif dan efisien untuk meningkatkan produktivitas dan mendukung tercapainya swasembada pangan,” ujar Rina dalam pernyataan yang dikutip dari Parlementaria, Jumat (14/2/2025).
Instruksi Presiden ini mengarahkan sembilan kementerian dan lembaga untuk mengkoordinasikan berbagai upaya yang diperlukan guna mendukung tujuan besar pencapaian swasembada pangan.
Kementerian yang terlibat antara lain Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Kemenko Pangan, Bappenas, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Pertanian, Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, serta para kepala daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Rina menambahkan bahwa keputusan Presiden untuk merilis Inpres Irigasi ini adalah langkah yang tepat, mengingat peran krusial irigasi dalam keberhasilan sektor pertanian pangan.
Berdasarkan audit yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum, lebih dari 45 persen jaringan irigasi pertanian dalam kondisi rusak.
Selain itu, survei Tani dan Nelayan Centre juga mengungkapkan bahwa 30,6 persen petani di Indonesia tidak memiliki akses terhadap irigasi yang memadai.
Untuk itu, perbaikan infrastruktur irigasi memerlukan pendekatan yang lebih holistik dan melibatkan kerjasama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta partisipasi aktif dari petani pengguna air.
Politisi dari Fraksi PKB ini juga menjelaskan bahwa kebutuhan beras tahunan Indonesia mencapai 30,975 juta ton, sementara produksi beras pada 2025 diperkirakan mencapai 32,291 juta ton.
Luas areal panen saat ini tercatat sekitar 10,046 juta hektare, meskipun ada penurunan luas sawah dalam beberapa tahun terakhir akibat konversi lahan. Meski demikian, cadangan pangan nasional harus tetap dipertahankan pada angka minimal 1,2 juta ton beras.
“Inpres Irigasi ini sangat penting untuk meningkatkan produksi beras nasional guna mempercepat tercapainya swasembada pangan yang berkelanjutan,” tambah Rina.***