JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan kinerja positif pada perdagangan Kamis pagi.
Dibuka dengan kenaikan signifikan, IHSG terus melaju di zona hijau, mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap kebijakan moneter global dan domestik.
Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 10.00 WIB, IHSG berada di level 6.415, melonjak 104,06 basis poin atau 1,65%.
Penguatan ini menjadikan IHSG sebagai indeks dengan performa terbaik di kawasan Asia Pasifik.
Indeks utama lainnya juga mengalami pergerakan positif, seperti Indeks Taiwan Taiex yang naik 1,31%, All Ordinaries Australia menguat 1,24%, dan Indeks Thailand yang bertambah 1,19%.
Sementara itu, Indeks Straits Times Singapura mencatatkan kenaikan 0,74%.
Namun, beberapa indeks mengalami koreksi, seperti Indeks Tokyo 225 yang melemah 0,25%, Shenzhen Component China turun 0,22%, dan Hang Seng Hong Kong yang tergerus 1,04%.
Faktor Pendorong Penguatan IHSG
Kenaikan IHSG didorong oleh respons positif investor terhadap kebijakan suku bunga yang dipertahankan oleh Bank Indonesia (BI) dan Federal Reserve (The Fed).
Keputusan ini memberikan angin segar bagi pasar keuangan domestik, karena menandakan stabilitas ekonomi yang terjaga.
“IHSG masih berpotensi bergerak sideways dengan kecenderungan koreksi, tergantung pada perkembangan sentimen pasar,” ujar CFP Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman dikutip Antara, Kamis (20/03/2025).
Selain itu, dinamika ekonomi makro serta tren bursa global menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan IHSG dalam beberapa hari ke depan.
Suku Bunga BI dan The Fed
The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 4,25-4,5%, sesuai ekspektasi pasar.
Jerome Powell, Ketua The Fed, menegaskan bahwa ekonomi AS tetap solid dengan tingkat inflasi yang semakin mendekati target 2%.
Stabilitas ini memberikan sinyal positif bagi pasar global, termasuk Indonesia, karena mengurangi tekanan terhadap arus modal asing di pasar saham domestik.
Sementara itu, Bank Indonesia memutuskan untuk menahan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75%.
Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Keputusan BI mempertahankan suku bunga dipandang sebagai katalis positif bagi IHSG, meskipun investor tetap perlu mencermati dampak dari kebijakan moneter AS dan pergerakan harga komoditas global.
Analis memperkirakan bahwa IHSG masih memiliki ruang untuk terus menguat, asalkan sentimen pasar tetap kondusif.
Pergerakan pasar saham ke depan akan sangat bergantung pada data ekonomi terbaru serta reaksi investor terhadap perkembangan kebijakan moneter di tingkat global dan domestik.
Dengan stabilnya suku bunga, arus modal asing diprediksi akan tetap berada di pasar saham Indonesia, memberikan dukungan terhadap likuiditas dan pergerakan harga saham.
Namun, investor tetap perlu berhati-hati terhadap potensi koreksi teknikal yang mungkin terjadi dalam jangka pendek.***