WASHINGTON – Amerika Serikat angkat bicara setelah China menggelar latihan militer besar-besaran di sekitar Taiwan pada Selasa (1/4). Gedung Putih menegaskan pentingnya menjaga stabilitas kawasan dan menolak segala bentuk “upaya sepihak” untuk mengubah status quo yang ada.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Presiden AS Donald Trump tidak menginginkan tindakan sepihak yang dapat memperburuk ketegangan antara China dan Taiwan, wilayah yang memiliki pemerintahan sendiri.
“Presiden Donald Trump menekankan pentingnya menjaga perdamaian di Selat Taiwan,” ujar Leavitt dalam keterangan pers yang dikutip AFP, Selasa (1/4).
Ia juga menegaskan kembali bahwa AS menolak “segala upaya sepihak untuk mengubah status quo dengan kekerasan atau paksaan.”
Taiwan menjadi salah satu titik panas dalam hubungan China-AS, mengingat Washington adalah sekutu utama dan pemasok persenjataan bagi pulau tersebut. Berdasarkan hukum yang berlaku, AS berkewajiban membantu Taiwan dalam hal pertahanan.
Pernyataan dari AS ini muncul setelah China menggelar latihan militer yang melibatkan angkatan darat, laut, dan udara di sekitar Taiwan. Beijing menyebut latihan tersebut sebagai peringatan keras bagi kelompok separatis Taiwan.
“(Latihan tersebut) berfokus pada patroli kesiapan tempur laut-udara, perebutan bersama atas keunggulan komprehensif, penyerangan terhadap target maritim dan darat, serta blokade terhadap area-area utama dan jalur laut,” kata juru bicara Komando Teater Timur China, Kolonel Senior Shi Yi.
China menegaskan bahwa latihan militer ini merupakan tindakan yang sah dan perlu dilakukan demi menjaga kedaulatan serta persatuan nasional. Latihan ini juga disebut sebagai yang terbesar di awal tahun 2025.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Taiwan mengonfirmasi bahwa China telah mengerahkan kapal induk Shandong serta 19 kapal perang lainnya di sekitar wilayah mereka. Situasi ini semakin meningkatkan ketegangan di kawasan Selat Taiwan.
