JAKARTA – Aktivis pro-Palestina asal Australia, Robert Martin, membagikan kisah perjalanan spiritual dan politiknya yang berawal dari keterlibatan dalam isu Palestina hingga akhirnya memeluk Islam.
Dalam wawancara dengan Anadolu yang dikutip Selasa (6/1/2026), Martin mengungkapkan bahwa kepeduliannya terhadap Palestina bermula bertahun-tahun lalu setelah menjalin persahabatan dengan seorang warga Palestina. Namun, ia sempat meragukan kesaksian mengenai tindakan Israel karena masih mempercayai narasi media Barat dan pemerintah.
Pandangan itu berubah ketika ia ikut serta dalam Freedom Flotilla pada Oktober lalu, sebuah misi internasional menentang blokade Israel atas Gaza. Martin menuturkan kapal yang ditumpanginya diserang pasukan Israel, dikepung puluhan kapal, lalu disita dan dibawa ke Pelabuhan Ashdod. Ia bersama aktivis lain kemudian ditahan otoritas Israel.
Menurut Martin, proses penahanan berlangsung agresif dan menakutkan. Ia mengaku menghadapi personel bersenjata lengkap serta mengalami perlakuan yang disebutnya sebagai kekerasan fisik, seksual, dan psikologis. Para aktivis juga menjalani penggeledahan badan berulang kali dengan cara yang merendahkan.
Robert Martin dan Perjalanan Spiritualnya
Martin menilai pengalaman tersebut hanya sedikit mencerminkan penderitaan warga Palestina sehari-hari. Meski memegang paspor Australia, ia tidak mendapat perlakuan khusus. Ia bahkan mengkritik pemerintah Australia yang dianggap enggan melakukan intervensi atau protes karena “takut terhadap Israel.”
Selain itu, Martin menceritakan proses dirinya memeluk Islam. Selama 15 tahun terakhir ia berinteraksi dekat dengan komunitas Muslim dan menggambarkan pengalaman itu secara positif. Ia pertama kali membaca Al-Qur’an sekitar satu dekade lalu dan menyebutnya sebagai kitab yang sangat mendalam. Dalam beberapa bulan terakhir, melalui pembelajaran mandiri dan bimbingan, ia semakin yakin hingga akhirnya memutuskan masuk Islam.
Martin menegaskan bahwa pemahamannya terhadap makna dan keindahan Al-Qur’an membuatnya percaya Islam adalah ajaran yang terbuka dan inklusif. Ke depan, ia berkomitmen untuk terus berbicara mengenai Islam dan Palestina. “Setelah apa yang saya saksikan, diam bukan lagi pilihan,” ujarnya, seraya menilai dukungan global terhadap Palestina kini semakin menguat.