Sebuah dompet kripto misterius yang baru dibuat tiga hari sebelum serangan gabungan AS-Israel ke Iran memicu kegemparan di dunia blockchain. Akun tersebut berhasil mengubah modal sebesar $64.000 (sekitar Rp1 miliar) menjadi keuntungan raksasa senilai $493.500 (sekitar Rp7,7 miliar) di platform prediksi terdesentralisasi, Polymarket.
Fenomena ini langsung menarik perhatian para analis on-chain dan memicu kembali perdebatan panas mengenai dugaan aktivitas “orang dalam” (insider trading) di pasar taruhan yang hingga kini sebagian besar belum teregulasi.
Jejak Digital yang Mencurigakan
Menurut data dari pelacak blockchain Onchain Lens, dompet tersebut membeli saham “YES” pada kontrak prediksi “U.S. strikes Iran” (AS menyerang Iran). Akun ini mempertaruhkan $60.816 untuk opsi serangan terjadi sebelum 28 Februari, dan tambahan $3.000 untuk kontrak 1 Maret.
Tepat pada Sabtu dini hari tanggal 28 Februari, serangan dimulai. Akun tersebut tercatat tidak memiliki riwayat perdagangan lain—sebuah pola yang menurut para pengamat sangat konsisten dengan seseorang yang bertindak berdasarkan informasi rahasia militer atau intelijen.
Bukan Sekadar Satu Akun
Temuan ini ternyata hanyalah puncak gunung es. Perusahaan analitik Bubblemaps SA mengungkapkan bahwa ada enam akun baru lainnya yang secara kolektif meraup keuntungan sekitar $1 juta (Rp15,7 miliar) dengan menebak tanggal pasti serangan.
Sebagian besar dompet ini baru didanai 24 jam sebelum rudal pertama meluncur, bahkan ada yang membeli saham seharga “sepuluh sen” per lembar hanya beberapa jam sebelum ledakan pertama dilaporkan di Teheran.
Spekulasi Perang Jadi Ladang Uang
Secara total, volume perdagangan di Polymarket terkait waktu serangan Iran menembus angka fantastis $529 juta. Kontrak tunggal terbesar bahkan menarik volume hingga $90 juta. Platform pesaing, Kalshi, juga mencatat taruhan senilai $36 juta terkait isu perubahan rezim di Iran.
Di sisi lain, ada pula kisah “keberuntungan melalui kegigihan”. Seorang trader dengan akun Vivaldi007 telah bertaruh secara sistematis pada berbagai tanggal serangan sejak 8 Februari.
Meski sempat mengalami kerugian beruntun karena tanggal-tanggal sebelumnya meleset, ia akhirnya memanen keuntungan total $385.000 (Rp6 miliar) saat serangan benar-benar pecah pada 28 Februari.