Pasca Pemilu 2024, aliran air ke permukiman warga di Cisiru, Kelurahan Suralaya, Cilegon, tiba-tiba terputus oleh Sumedi Madasik. Ternyata, Sumedi yang merupakan calon legislatif dari PKS untuk DPRD Cilegon memutus aliran air tersebut setelah kalah dalam pemilihan.
Berdasarkan dokumen formulir Model D Hasil yang diterima detikcom pada Kamis (14/3), Sumedi Madasik berpartisipasi dalam dapil Kota Cilegon 4 yang mencakup Kecamatan Pulomerak dan Gerogol. Sumedi bersaing dengan nomor urut 8 dari PKS.
Di Pulomerak, Sumedi Madasik memperoleh 635 suara, sedangkan di Gerogol hanya mendapat 51 suara. Total suara yang diterima Sumedi adalah 686 suara. Meski demikian, dalam internal PKS, Sumedi menempati peringkat ketiga dalam perolehan suara. Dia kalah dari caleg PKS lainnya, yaitu Jazuli dengan 1.473 suara, dan Aam Amarulloh dengan 1.401 suara.
Menurut cerita seorang warga, Sumedi adalah pemilik bor aliran air di permukiman tersebut. Warga menduga bahwa pemutusan aliran air tersebut terkait dengan kekalahan Sumedi dalam Pemilu 2024.
Sumedi Madasik menjelaskan bahwa pemutusan aliran air bukan hanya karena kekalahan dalam Pemilu 2024. Ada cerita lain di balik tindakan tersebut.
“Saya sudah membantu masyarakat tersebut dengan menyediakan air bersih selama sekitar empat tahun. Mulai tahun 2019, air bersih dari sumur bor saya dialirkan ke masyarakat. Jaraknya cukup jauh, sekitar 2 km dari titik sumur bor, dan posisinya naik turun, sehingga menggunakan pompa satelit 5 PK dengan tegangan 35 Volt,” ujarnya.
Sejak 2019, Sumedi meminta warga untuk membayar iuran sebesar Rp 10 ribu per kubik air. Iuran tersebut dibagi menjadi dua, Rp 5.000 untuk biaya listrik pompa dan Rp 5.000 lagi untuk perawatan pompa air.
“Saya tidak keberatan jika warga membayar Rp 5 ribu per kubik air untuk listrik, tetapi jika ingin Rp 10 ribu, Rp 5 ribu dari jumlah tersebut adalah bagi penghasilan masyarakat, saya tetap minta Rp 5 ribu per kubik,” tambahnya.
Selama lima tahun, Sumedi telah mensubsidi kebutuhan listrik pompa air warga. Setiap bulan, uang yang terkumpul dari warga berkisar antara Rp 1,5 hingga Rp 2 juta. Namun, biaya listrik untuk pompa air yang menyediakan air bagi warga tersebut mencapai Rp 4 hingga Rp 4,5 juta.