JAKARTA – Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Alwi Farhan, menatap Malaysia Open 2026 sebagai peluang krusial untuk memulai musim dengan koleksi poin penting bagi BWF World Tour Finals.
Turnamen BWF Super 1000 yang digelar di Axiata Arena, Kuala Lumpur, 6–11 Januari, menjadi pembuka kalender kompetisi internasional sekaligus arena awal pemburuan poin bagi para pemain papan atas dunia.
“Bangga bisa masuk Super 1000 dari awal tahun. Tahun baru semuanya dimulai dari nol, race to Hangzhou-nya juga kembali terbuka,” ujar Alwi dalam keterangan resmi PP PBSI, Minggu.
Alwi menilai turnamen perdana selalu menghadirkan tantangan tersendiri karena setiap peserta datang dengan motivasi dan energi baru untuk menorehkan prestasi.
“Di turnamen pertama ini semua orang punya semangat yang baru, antusias yang baru, begitu pun juga saya,” tambahnya, menekankan fokus pada permainan terbaik tanpa beban target jangka pendek.
Pebulu tangkis 21 tahun itu berharap momentum positif dari akhir musim lalu bisa dijadikan modal untuk tampil konsisten sepanjang 2026, termasuk memanfaatkan kesempatan bermain di level Super 1000 sejak awal musim.
“Kita maksimalkan kesempatan dan momentum yang ada. Saya ingin mengeluarkan permainan terbaik,” kata Alwi, menegaskan niatnya untuk bermain maksimal.
Alwi menambahkan bahwa fokus utama adalah memberikan usaha terbaik, sementara hasil akhir diserahkan pada proses dan Tuhan.
“Tugas saya hanya berusaha, sisanya saya pasrahkan hasilnya kepada Tuhan,” ujarnya, mencerminkan sikap profesional sekaligus rendah hati.
Malaysia Open dikenal sebagai turnamen dengan persaingan paling ketat dalam kalender BWF, dan bagi Alwi, ini menjadi tolok ukur kesiapan serta langkah awal untuk 2026.
Di ajang ini, Indonesia menurunkan Jonatan Christie di tunggal putra dan Putri Kusuma Wardani di tunggal putri, menunjukkan komitmen negeri ini pada prestasi bulu tangkis global.***