Kekayaan taipan Indonesia Prajogo Pangestu mengalami penurunan tajam dalam sehari. Berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires, per Jumat (23/1/2026) pukul 18.00 WIB, harta Prajogo anjlok sebesar US$1,8 miliar atau setara Rp30,3 triliun (asumsi kurs Rp16.845 per dolar AS).
Penurunan tersebut setara koreksi 5,42 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya. Dengan demikian, total kekayaan Prajogo kini tercatat US$32,5 miliar atau sekitar Rp547,46 triliun, menempatkannya di peringkat ke-62 orang terkaya dunia.
Sempat Melonjak di Awal Pekan
Penurunan tajam ini terjadi setelah kekayaan Prajogo sempat melonjak signifikan di awal pekan. Pada Senin (19/1/2026), Forbes mencatat hartanya bertambah US$943,5 juta atau sekitar Rp15,9 triliun, sehingga sempat menyentuh level US$35,6 miliar (Rp603,6 triliun).
Meski terkoreksi, posisi Prajogo masih kokoh sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, jauh melampaui sejumlah konglomerat besar lainnya. Low Tuck Kwong berada di peringkat 100 dunia dengan harta US$23,6 miliar, sementara duo Hartono—Robert Budi Hartono dan Michael Budi Hartono—masing-masing menempati peringkat 117 dan 126 dunia.
Aktivitas Saham Jadi Sorotan
Fluktuasi kekayaan Prajogo tak lepas dari pergerakan pasar modal dan aktivitas investasinya. Berdasarkan laporan kepemilikan saham kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Prajogo tercatat membeli 1 juta lembar saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) pada 15 Januari 2026.
Pembelian dilakukan melalui tujuh transaksi dengan kisaran harga Rp9.525–Rp9.675 per saham untuk tujuan investasi pribadi. Dengan transaksi tersebut, kepemilikan saham Prajogo di BREN meningkat dari 139.789.700 lembar (0,104 persen) menjadi 140.789.700 lembar (0,105 persen).
Sebelumnya, pada 13 Januari, ia juga tercatat membeli 1.330.000 saham BREN di kisaran harga Rp8.800–Rp9.025 per saham.
Jejak Bisnis Sang Konglomerat
Prajogo Pangestu dikenal sebagai pengusaha yang memulai karier dari industri kayu pada akhir 1970-an. Ia mendirikan Barito Pacific Timber, yang melantai di Bursa Efek Indonesia pada 1993.
Pada 2007, perusahaan tersebut bertransformasi menjadi Barito Pacific dan mengalihkan fokus bisnis ke sektor petrokimia melalui akuisisi 70 persen saham Chandra Asri. Bisnis petrokimia itu semakin menguat pada 2011 setelah merger dengan Tri Polyta Indonesia serta masuknya perusahaan energi Thaioil sebagai pemegang saham strategis.
Pada 2023, Prajogo juga melepas saham di perusahaan tambang batu bara Petrindo Jaya Kreasi serta perusahaan energi terbarukan Barito Renewables Energy, menandai langkah restrukturisasi portofolio bisnisnya.
