AMERIKA SERIKAT – Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali melakukan penyitaan terhadap pesawat kepresidenan Venezuela. Pesawat Dassault Falcon 200EX dengan nomor ekor YV-3360 disita pada Kamis (6/2/2025) saat diparkir di Bandara Santo Domingo, Republik Dominika. Ini merupakan langkah kedua setelah sebelumnya, pada September 2024, AS juga menyita pesawat milik pemerintah Venezuela.
Menlu AS Marco Rubio, yang tengah berada di Republik Dominika untuk kunjungan pertamanya sebagai menteri luar negeri, langsung menyaksikan penempelan surat penyitaan pada pintu pesawat. Proses ini menunjukkan komitmen AS dalam menegakkan sanksi terhadap Venezuela.
Edwin Lopez, diplomat AS di Santo Domingo, mengungkapkan bahwa pesawat-pesawat tersebut digunakan oleh pejabat tinggi Venezuela, termasuk Presiden Nicolas Maduro, untuk perjalanan dinas. Salah satu pesawat sebelumnya sudah dipindahkan ke Florida setelah disita pada September, di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden.
Lopez menjelaskan bahwa kedua pesawat disita karena melanggar sanksi yang diberlakukan oleh AS. Pesawat yang disita pada Februari 2025 sudah berada di Santo Domingo sejak April 2024. Di bawah kepemimpinan Rubio, AS berhasil mendapatkan dana untuk memperbaiki pesawat tersebut sebelum akhirnya disita secara resmi. Rencananya, pesawat tersebut akan dibawa ke Miami dalam beberapa bulan mendatang.
“Secara kolektif, kedua pesawat itu memberi kita harta karun intelijen,” ujar Lopez, merujuk pada informasi penting yang terkandung dalam data penerbangan, seperti daftar anggota Angkatan Udara Venezuela, identitas pribadi, dan manifes penerbangan. (CNN, 7/2/2025)