Kuala Lumpur – Tentera Darat Malaysia sedang diguncang skandal korupsi pengadaan militer. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Tan Sri Muhammad Hafizuddeain Jantan, beserta dua istrinya ditangkap Komisi Antikorupsi Malaysia (MACC) pada 7 Januari 2026.
Skandal ini terbongkar berkat laporan aktivis Chegubard (Badrul Hisham Shaharin) pada 22 Desember 2025. Ia menerima dokumen anonim yang menunjukkan aliran uang suap dari perusahaan kontraktor ke rekening Hafizuddeain dan keluarganya. Chegubard melaporkan ke polisi di Dang Wangi setelah memeriksa bukti secara forensik. Badrul Hisham Shaharin mengaku pihaknya sempat mendapat ancaman dan tawaran suap jutaan ringgit agar diam. Meski begitu, Chegubard tetap mendesak transparansi penuh.
MACC langsung bertindak. Sejak 23 Desember 2025, mereka menggerebek Kementerian Pertahanan, membekukan enam rekening keluarga Hafizuddeain, dan memeriksa 26 hingga 40 perusahaan kontraktor. Pada 5 Januari 2026, 17 direktur perusahaan ditahan selama lima hari atas dugaan kartel tender.
MACC juga menggagalkan pemindahan uang tunai Rp8,5 miliar (RM2,4 juta) terkait suap. Hafizuddeain diperiksa pada 6 Januari sebelum ditahan bersama istrinya.
Menteri Pertahanan Mohamed Khaled Nordin meminta Hafizuddeain cuti pada 27 Desember 2025 agar penyelidikan lancar. Jenderal Azhan Md Othman menggantikannya mulai 1 Januari 2026. Laksamana Tan Sri Zulhelmy Ithnain sementara jadi Kepala Angkatan Bersenjata.
Kementerian tegas menyatakan korupsi tidak diterima di MAF. Sultan Ibrahim menekankan pimpinan militer harus beri contoh baik.
Kasus ini merusak citra militer Malaysia dan menarik perhatian dunia. Chegubard menyambut cuti Hafizuddeain sebagai langkah positif, tapi minta detail aset yang disita diungkap.
Sidang penahanan Hafizuddeain digelar hari ini di Pengadilan Putrajaya berdasarkan UU MACC 2009. Belum ada putusan hakim, tapi skandal ini mirip kasus kapal LCS sebelumnya.