RIYADH, ARAB SAUDI – Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas. Pemerintah Arab Saudi, melalui Kementerian Luar Negerinya, pada Jumat (27/2/2026) mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran kedaulatan yang dilakukan oleh Iran terhadap sejumlah negara tetangga.
Dalam pernyataan tersebut, Riyadh menuding Iran telah secara terang-terangan melanggar otonomi lima negara, yakni Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Yordania. Aksi ini dinilai sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan.
“Kerajaan Arab Saudi menyatakan solidaritas penuh dengan negara-negara saudara ini dan mendukung penuh setiap langkah atau tindakan yang mereka ambil untuk menjaga kedaulatan mereka,” demikian bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Saudi.
Lebih lanjut, Arab Saudi memperingatkan bahwa pelanggaran berkelanjutan terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara akan membawa konsekuensi serius. Riyadh menegaskan bahwa tindakan agresif tersebut tidak hanya mengancam keamanan nasional masing-masing negara, tetapi juga berpotensi merusak perdamaian dan stabilitas di seluruh wilayah Timur Tengah.
Menanggapi eskalasi ini, Kerajaan Arab Saudi menyerukan kepada komunitas internasional untuk tidak tinggal diam. Riyadh mendesak negara-negara dunia untuk mengutuk tindakan Iran dan mengambil langkah tegas guna mencegah pelanggaran lebih lanjut yang dapat memicu konflik terbuka.
Kecaman keras dari Arab Saudi ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan. Pernyataan tersebut dirilis sehari sebelum Iran dikabarkan melancarkan serangan balasan pada Sabtu (28/2/2026). Serangan itu dilaporkan menyasar aset-aset milik Amerika Serikat (AS) dan Israel yang berada di sejumlah negara Teluk.
Serangan balasan oleh Teheran tersebut merupakan respons atas operasi militer yang sebelumnya dilancarkan terhadap Republik Islam Iran. Negara-negara Teluk, termasuk Kuwait, UEA, Qatar, Yordania, dan Arab Saudi sendiri, selama ini diketahui menjadi lokasi strategis bagi penempatan aset militer AS yang digunakan dalam operasi-operasi di kawasan, termasuk yang menargetkan Iran.