jakarta – Sebanyak 16 kapal sipil internasional berangkat dari pelabuhan-pelabuhan di Tunisia sebagai bagian dari Armada Sumud Global untuk Gaza, sebuah konvoi kemanusiaan berskala besar yang bertujuan menembus blokade Israel dan mengirimkan bantuan bagi warga Palestina yang terisolasi di Jalur Gaza.
Dalam keterangan kepada Anadolu, Khaled Boujemaa, anggota kontingen Maghreb dari armada tersebut, menjelaskan bahwa 11 kapal telah berlayar dari Pelabuhan Bizerte di Tunisia utara sejak Sabtu malam hingga Minggu malam.
Selain itu, tiga kapal diberangkatkan dari Pelabuhan Gammarth di ibu kota Tunis, sementara dua kapal lainnya lepas sauh dari Pelabuhan Sidi Bou Said, yang juga berada di dekat ibu kota.
Pada Minggu, juru bicara penyelenggara, Ghassan al-Hanshiri, mengonfirmasi bahwa dua kapal telah berangkat dari Gammarth menuju Gaza, sementara kapal ketiga sedang dalam tahap persiapan keberangkatan.
“Kapal Tunisia ketiga sedang bersiap untuk segera berangkat,” ujar Hanshiri dilansir dari Anadolu, seraya menambahkan bahwa “total delapan kapal Tunisia saat ini sedang berlabuh di Gammarth.”
Hanshiri menambahkan bahwa kapal-kapal lain masih berada di Sidi Bou Said, sementara kapal dari Italia dan Spanyol telah meninggalkan pelabuhan masing-masing. Seluruh armada dijadwalkan bertemu di Laut Mediterania sebelum melanjutkan pelayaran kolektif menuju Jalur Gaza.
Keberangkatan armada ini menjadi momen penting dalam gerakan solidaritas global terhadap Palestina. Menurut koresponden Anadolu dan juru bicara armada, konvoi ini melibatkan puluhan kapal dan ratusan aktivis dari 47 negara, termasuk para politisi, seniman, dan anggota parlemen.
Gerakan ini telah dimulai sejak Agustus lalu, dimulai dari Barcelona, Spanyol dan Genoa, Italia, sebelum kapal-kapal Eropa ini bertemu dengan armada dari wilayah Maghreb di perairan Tunisia.
Para penyelenggara menggambarkan misi ini sebagai operasi kemanusiaan terbesar dan belum pernah terjadi sebelumnya, berbeda dari upaya-upaya sebelumnya yang biasanya melibatkan satu atau dua kapal yang dengan cepat dicegat oleh Israel.
Tujuan utama armada adalah untuk menembus blokade laut yang telah diberlakukan Israel selama bertahun-tahun, dan mempercepat penyaluran bantuan medis dan pangan ke Gaza, di mana jutaan warga Palestina kini hidup dalam kondisi darurat kemanusiaan.
Wilayah Gaza telah mengalami kehancuran parah sejak Israel meluncurkan serangan militer besar-besaran pada Oktober 2023. Menurut laporan terbaru, hampir 65.000 warga Palestina—mayoritas perempuan dan anak-anak—telah tewas, sementara wilayah itu kini menghadapi kelaparan masif dan penyebaran penyakit akibat blokade total dan serangan tanpa henti.