WASHINGTON, AS -Pemerintah federal mencatatkan pinjaman fantastis sebesar USD1 triliun (sekitar Rp16.900 triliun) hanya dalam lima bulan terakhir, sejak Oktober 2025. Utang negara pun kini mendekati angka mengkhawatirkan, yaitu USD38,9 triliun. Kondisi ini terjadi di tengah menggunungnya biaya perang melawan Iran yang disebut-sebut telah membakar habis miliaran dolar uang pembayar pajak hanya dalam hitungan hari.
Menurut laporan terbaru Kantor Anggaran Kongres (CBO) yang dirilis Senin (9/3/2026), lonjakan utang ini sebagian besar dipicu oleh membengkaknya pembayaran bunga utang publik serta peningkatan belanja pemerintah, termasuk dari Departemen Pertahanan . Hanya dalam lima bulan, Departemen Keuangan telah menggelontorkan USD433 miliar untuk membayar bunga utang. Angka ini bahkan disebut-sebut telah melampaui anggaran pertahanan AS, menciptakan tekanan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya .
“Ini tidak dapat berkelanjutan,” tegas Maya MacGuineas, presiden Komite untuk Anggaran Federal yang Bertanggung Jawab (CRFB), dalam pernyataan resminya. Ia mendesak para pembuat kebijakan untuk segera mengambil langkah konkret mengurangi defisit, dengan mengusulkan rasio defisit terhadap PDB sebesar 3% sebagai target awal . CRFB dalam laporan terkininya bahkan memperingatkan, “AS hampir pasti akan memasuki guncangan berikutnya dengan utang yang lebih besar daripada sebelumnya” .
Biaya Perang Iran Menggelembung, Demokrat Kritis
Di tengah tekanan fiskal yang dahsyat ini, pemerintah Presiden Donald Trump justru dihadapkan pada tagihan perang yang selangit. Laporan The Washington Post pada Selasa (10/3/2026) mengungkapkan bahwa militer AS menembakkan amunisi senilai USD5,6 miliar hanya dalam dua hari pertama serangan terhadap Iran . Bahkan, setelah satu pekan konflik, biaya operasi militer dilaporkan telah melonjak hingga USD11,3 miliar, menurut sumber yang mengetahui pengarahan tertutup Pentagon kepada Kongres .
Angka tersebut bahkan belum mencakup biaya persiapan logistik sebelum serangan dimulai. “Total tagihan yang harus dibayar pembayar pajak AS diprediksi akan melonjak jauh lebih tinggi,” tulis The New York Times seperti dikutip Media Indonesia . Sebagai gambaran, biaya sehari perang melawan Iran diperkirakan bisa menembus USD2 miliar, jauh melampaui estimasi awal . Pemerintahan Trump diperkirakan akan segera mengirimkan permintaan anggaran pertahanan tambahan kepada Kongres, yang kabarnya mencapai USD50 miliar untuk mengisi kembali stok rudal Tomahawk dan Patriot yang terkuras .
Lonjakan biaya perang ini menjadi amunisi politik yang tajam bagi Partai Demokrat. Pemimpin Minoritas DPR, Hakeem Jeffries, melontarkan kritik keras terhadap Presiden Trump. “Mereka menghabiskan miliaran dolar untuk membom Iran, tapi tidak bisa menemukan satu sen pun untuk mempermudah warga Amerika pergi ke dokter, membeli rumah pertama, atau menurunkan tagihan belanjaan,” ujar Jeffries dalam konferensi pers di Capitol Hill .
Kritik juga datang terkait durasi konflik yang tidak jelas. Awalnya, Trump menyebut perang akan berlangsung sekitar empat pekan. Namun, laporan Politico pekan lalu mengklaim Pentagon memperkirakan konflik akan berlanjut setidaknya 100 hari lagi, bahkan mungkin hingga September, sebuah kontras mencolok yang memicu kekhawatiran para anggota parlemen .
Ancaman Krisis Stok Amunisi
Selain masalah pendanaan, para ahli memperingatkan bahaya lain yang lebih kritis, yaitu penipisan stok amunisi. John Phillips, pakar risiko keamanan, menilai tantangan terbesar Washington bukan hanya soal uang. “Kendala utamanya bukan uang, tapi stok interseptor. AS bisa menanggung biaya finansial selama bertahun-tahun, tapi penipisan munisi bisa menjadi hambatan serius dalam hitungan bulan,” jelasnya kepada Media Indonesia .
Dengan pemilu paruh waktu yang semakin dekat, beban ekonomi akibat perang ini diprediksi akan menjadi batu sandungan besar bagi administrasi Trump. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan popularitas Trump merosot tajam sesaat setelah serangan 28 Februari diluncurkan, mengingat janji kampanyenya dulu adalah menurunkan biaya hidup dan menghindari perang berkepanjangan .