JAKARTA – Türkiye dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan penting antara Amerika Serikat dan Iran di Istanbul pada Jumat 6 Februari. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Ankara meredakan ketegangan militer, menyusul peringatan Presiden AS, Donald Trump yang mengancam akan melakukan “hal-hal buruk” jika tidak ada kesepakatan tercaoai dengan Teheran.
Pertemuan tersebut diperkirakan mempertemukan utusan Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Sejumlah negara regional, termasuk Qatar, Arab Saudi, dan Mesir, disebut berpotensi ikut terlibat dalam proses diplomasi ini.
Türkiye sebelumnya telah memimpin inisiatif diplomatik, dengan Araghchi melakukan kunjungan ke Istanbul dan sejumlah negara kawasan. Trump sendiri menegaskan harapannya agar Washington “menemukan solusi” dengan Iran, namun tetap memperingatkan konsekuensi serius jika pembicaraan gagal.
Teheran menegaskan komitmen pada jalur diplomasi, namun bersumpah akan memberikan respons keras terhadap setiap agresi. “Presiden Pezeshkian telah memerintahkan pembukaan pembicaraan dengan Amerika Serikat,” tulis kantor berita Fars, mengutip sumber pemerintah.
Dalam wawancara dengan CNN yang dikutip Hurriyet Daily News, Selasa (3/2/2026) Araghchi menyatakan, “Presiden Trump mengatakan tidak ada senjata nuklir, dan kami sepenuhnya setuju. Itu bisa menjadi kesepakatan yang sangat baik. Sebagai imbalannya, kami mengharapkan pencabutan sanksi.”
Di sisi lain, Iran masih bergulat dengan dampak aksi protes besar-besaran. Pemerintah mengakui ribuan korban jiwa, sementara kelompok HAM menuding angka sebenarnya jauh lebih tinggi. Uni Eropa merespons dengan menetapkan Korps Garda Revolusi Islam sebagai organisasi teroris dan menjatuhkan sanksi baru terhadap pejabat Iran. Langkah serupa diikuti Inggris, yang mengumumkan sanksi terhadap 10 individu atas dugaan pelanggaran HAM.
