JAKARTA – Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan mengadakan pembicaraan perdamaian di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026), meski kedua pihak masih menunjukkan perbedaan tajam terkait tuntutan utama dan saling menegaskan ketidakpercayaan.
Delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf tiba lebih dahulu di Islamabad dengan pengamanan ketat. “Kami memiliki niat baik tetapi kami tidak percaya. Pengalaman kami dalam bernegosiasi dengan Amerika selalu berakhir dengan kegagalan dan janji yang ingkar,” ujarnya dalam siaran televisi pemerintah Iran, dilansir Hurriyet Daily News.
Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance memimpin delegasi AS yang juga mencakup Jared Kushner dan utusan khusus Steve Witkoff. Sebelum berangkat, Vance menegaskan, “Jika Iran bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, kami tentu bersedia mengulurkan tangan. Namun, jika mereka mencoba mempermainkan kami, maka mereka akan mendapati tim negosiasi kami tidak begitu responsif.”
Iran menuntut gencatan senjata di Lebanon serta pencairan asetnya sebagai syarat pembicaraan, sementara Presiden AS Donald Trump menekankan pembukaan Selat Hormuz sebagai prasyarat utama. “Tidak ada senjata nuklir. Itu 99 persen dari segalanya,” tegas Trump.
Di sisi lain, serangan udara Israel terhadap Hizbullah di Lebanon tetap berlanjut. Israel menolak membahas gencatan senjata dengan Hizbullah, namun menyatakan siap membuka negosiasi formal dengan pemerintah Lebanon.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif menilai proses menuju perdamaian akan penuh tantangan. “Gencatan senjata sementara telah diumumkan, tetapi sekarang tahapan yang lebih sulit terbentang di depan: tahapan mencapai gencatan senjata yang langgeng,” katanya.
Pembicaraan di Hotel Serena, Islamabad, berlangsung di bawah pengamanan ketat. Sementara itu, di Teheran, sebagian warga skeptis terhadap hasil perundingan, menyebut pernyataan Trump sebagai “omong kosong.”
Gencatan senjata rapuh ini berdampak pada pasar global: saham-saham Wall Street naik lebih dari tiga persen sepanjang minggu, sementara harga minyak turun sekitar 13 persen.