WASHINGTON, AS – Presiden Donald Trump telah menyelesaikan penjualan pertama minyak mentah Venezuela senilai US$500 juta, atau sekitar Rp8,45 triliun dengan kurs Rp16.890 per dolar AS. Langkah ini menandai dimulainya komersialisasi cadangan minyak Venezuela oleh AS, menyusul operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada awal Januari 2026.
Seorang pejabat pemerintahan AS mengonfirmasi informasi tersebut kepada CNN, seraya menambahkan bahwa penjualan minyak tambahan diperkirakan akan segera menyusul dalam beberapa hari ke depan.
Meski detail transaksi perdana ini belum diungkap secara rinci, Juru Bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, menyatakan bahwa tim Presiden Trump tengah memfasilitasi diskusi positif dan berkelanjutan dengan perusahaan-perusahaan minyak yang siap melakukan investasi besar untuk memulihkan infrastruktur minyak Venezuela.
Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa minyak mentah Venezuela ditawarkan dengan harga diskon kepada para pedagang, sehingga lebih kompetitif dibandingkan minyak serupa dari negara pesaing seperti Kanada.
Presiden Trump berulang kali menegaskan rencananya untuk memanfaatkan cadangan minyak Venezuela yang sangat besar sejak operasi militer tersebut. Pada Jumat lalu, ia menyatakan bahwa industri minyak AS akan menggelontorkan investasi minimal US$100 miliar, atau setara Rp1.689 triliun, untuk membangun kembali sektor energi Venezuela, meski asal-usul perhitungan angka tersebut belum dijelaskan secara rinci.
Venezuela dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari total cadangan global, menurut data Administrasi Informasi Energi (EIA) Amerika Serikat. Jumlah ini melampaui cadangan Arab Saudi yang mencapai 267 miliar barel, Iran 209 miliar barel, dan Irak 145 miliar barel. Sebagai salah satu pendiri OPEC, negara Amerika Latin ini memiliki potensi energi yang sangat besar, namun infrastrukturnya rusak parah akibat sanksi internasional, salah kelola, dan konflik politik berkepanjangan.
Namun demikian, rencana ambisius Washington ini mendapat respons skeptis dari sejumlah petinggi perusahaan energi Amerika Serikat. CEO ExxonMobil, Darren Woods, secara tegas menyampaikan pandangannya kepada pejabat AS dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat lalu.
“Ini tidak layak investasi. Ada sejumlah kerangka hukum dan komersial yang harus ditetapkan untuk memahami jenis keuntungan apa yang akan kita dapatkan dari investasi tersebut,” ujar Woods.
Beberapa eksekutif energi lainnya juga menunjukkan keengganan serupa untuk terlibat di negara yang masih dilanda ketidakpastian politik dan hukum. Usai pertemuan panjang tersebut, Trump dan para pembantunya dilaporkan meninggalkan Gedung Putih tanpa mendapatkan komitmen investasi yang jelas dari ExxonMobil maupun perusahaan besar lainnya.
Langkah penjualan minyak ini merupakan bagian dari strategi lebih luas pemerintahan Trump untuk mengendalikan aset energi Venezuela pasca-penangkapan Maduro. Strategi tersebut bertujuan menghasilkan pendapatan bagi kepentingan Amerika Serikat dan Venezuela, sekaligus mendorong rekonstruksi sektor minyak dan gas negara tersebut.
Situasi ini terus dipantau ketat oleh pelaku pasar global karena berpotensi memengaruhi dinamika pasokan minyak dunia dan harga komoditas energi internasional. Penjualan minyak Venezuela oleh AS diperkirakan akan berlanjut secara berkelanjutan, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan resmi Departemen Energi Amerika Serikat.
