JAKARTA – Amerika Serikat memperluas serangan udara terhadap Iran pada Senin (20/7/2026), menghantam sejumlah lokasi strategis termasuk kota yang memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir.
Iran membalas dengan serangan ke Bahrain dan Kuwait, serta menggempur kapal tanker di Selat Hormuz. Di tengah eskalasi militer, para diplomat menegaskan bahwa jalur perundingan masih berjalan.
Media Iran melaporkan serangan di sekitar Tabriz, yang diyakini menyimpan pangkalan rudal bawah tanah, serta Bushehr, lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir sipil. Militer AS menyebut target mereka mencakup “pusat komando militer, pertahanan udara, situs pengawasan pantai, kemampuan maritim, peluncuran rudal dan drone, serta jaringan komunikasi.”
Iran merespons dengan menghantam Bahrain—markas Armada Kelima Angkatan Laut AS—dan Kuwait, serta memperburuk krisis energi global lewat serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Harga minyak pun menembus $90 per barel, tertinggi dalam sebulan, memperdalam tekanan pasar.
Kesepakatan damai sementara yang diteken bulan lalu kini memasuki paruh masa implementasi 60 hari. Meski pertempuran terus berlangsung, Iran menegaskan diplomasi dengan AS tetap berjalan. “Kami telah mendapat informasi dari para mediator, kami telah menerima pesan – tanpa perlu membahas detailnya – tetapi poin utamanya adalah bahwa aparat diplomatik telah aktif dalam beberapa hari terakhir dan gagasan telah disampaikan kepada kami oleh mediator-mediator tertentu,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, di Teheran, dilansir The Guardian, Senin (20/7/2026).
Beberapa jam sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan Washington masih membuka pintu negosiasi. “Kami akan terus merespons. Jika pintu diplomasi terbuka – jika pihak-pihak yang ingin melakukan sesuatu yang produktif untuk Iran menang dan mengambil kendali atas sistem itu, atau mengambil kendali atas negosiasi – itu akan menjadi perkembangan yang sangat positif,” ujarnya.