WASHINGTON, AS – Amerika Serikat berhasil menyita kapal tanker minyak berbendera Rusia bernama Marinera, sebelumnya dikenal sebagai Bella 1, di perairan Atlantik Utara pada Rabu (7/1/2026). Operasi ini mengakhiri pengejaran selama berminggu-minggu di laut lepas dan memicu peningkatan ketegangan geopolitik antara Washington dan Moskow.
Dua pejabat Amerika Serikat yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kepada NBC News bahwa penyitaan dilakukan setelah operasi intensif yang melibatkan pengejaran panjang. Kapal tersebut kini berada di bawah kendali AS, dengan operasi dipimpin oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) dan didukung oleh militer Amerika Serikat.
Marinera, yang saat ini tidak mengangkut muatan, diketahui memiliki riwayat pengangkutan minyak mentah dari Venezuela. Kapal ini termasuk dalam jaringan armada gelap yang diduga digunakan untuk menghindari sanksi Amerika Serikat terhadap Caracas. Sejak Juni 2024, Marinera telah masuk dalam daftar sanksi Washington karena dianggap mendukung upaya ilegal Venezuela mengekspor minyak.
Pengejaran dimulai sejak bulan lalu ketika Penjaga Pantai AS pertama kali mendekati kapal tersebut di lepas pantai Venezuela. Marinera kemudian mengganti benderanya dari Guyana menjadi Rusia, langkah yang diduga untuk mencari perlindungan dari Moskow. Pada 5 Januari 2026, kapal ini terdeteksi berada di lepas pantai barat Skotlandia berdasarkan data pelacakan MarineTraffic.
Rusia merespons keras penyitaan tersebut. Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan pihaknya memantau situasi dengan penuh keprihatinan.
“Selama beberapa hari terakhir, Marinera dibuntuti kapal Penjaga Pantai AS, meskipun kapal kami berada sekitar 4.000 kilometer dari garis pantai Amerika Serikat,” demikian pernyataan yang dikutip kantor berita TASS pada Selasa (6/1/2026).
“Saat ini kapal tersebut berlayar di perairan internasional Atlantik Utara di bawah bendera Federasi Rusia dan sepenuhnya mematuhi hukum maritim internasional,” lanjut pernyataan itu.
“Namun, alasan yang masih belum jelas bagi kami, kapal Rusia tersebut mendapatkan perhatian berlebihan dari pasukan militer AS dan NATO yang tidak sebanding dengan status damainya.”
Media Rusia, RT, merilis video eksklusif yang diklaim diambil dari atas kapal pada Selasa malam. Video tersebut memperlihatkan kondisi kabut tebal dengan kapal Penjaga Pantai AS terlihat di kejauhan. Dalam laporan itu, RT menyebut adanya dugaan upaya pembajakan serta pemantauan oleh pesawat pengintai Amerika Serikat.
Data penerbangan menunjukkan aktivitas militer yang meningkat. Sebanyak 13 pesawat angkut C-17A Globemaster III Angkatan Udara AS tercatat terbang ke Inggris pada periode 3–5 Januari 2026. Aktivitas tersebut diikuti misi patroli oleh setidaknya satu pesawat P-8A Poseidon milik Angkatan Laut AS hingga Rabu.
Militer Inggris menolak memberikan komentar terkait dugaan keterlibatan mereka dalam pelacakan maupun operasi penyitaan kapal tersebut.
Marinera bukan satu-satunya kasus. Setidaknya tiga kapal tanker lain yang terjerat sanksi dan beroperasi di sekitar Venezuela baru-baru ini juga mengibarkan bendera Rusia, berdasarkan Daftar Pelayaran Maritim Rusia. Kapal-kapal tersebut antara lain Malak yang kini berganti nama menjadi Sintez, Dianchi yang kini bernama Expander, serta Veronica yang kini dikenal sebagai Galileo. Sebelumnya, kapal-kapal itu berbendera Komoro dan Guyana.
Penyitaan Marinera menegaskan komitmen Amerika Serikat untuk memperketat penerapan sanksi terhadap Venezuela, sekaligus menyoroti potensi eskalasi ketegangan dengan Rusia yang semakin aktif melindungi armada bayangannya di perairan global.