PERT, AUSTRALIA – Pemerintah Australia mengumumkan investasi masif senilai 12 miliar dolar Australia (setara sekitar Rp130,8 triliun) untuk mengembangkan galangan kapal Henderson di dekat Perth.
Proyek ambisius ini dirancang sebagai pusat utama pemeliharaan armada kapal selam bertenaga nuklir, mendukung strategi pertahanan nasional di tengah ketegangan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik.
Penggelontoran dana awal ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang selama 20 tahun, yang akan dilaksanakan secara bertahap dalam 10 tahun ke depan.
Fasilitas galangan kapal di Australia Barat tersebut akan dilengkapi dengan dok kering berstandar keamanan tinggi khusus untuk perawatan kapal selam nuklir, serta mendukung pembangunan kapal pendarat bagi angkatan darat dan fregat serbaguna untuk angkatan laut.
Langkah ini tidak hanya memperkuat kemampuan militer Australia, tetapi juga diproyeksikan menciptakan hingga 10 ribu lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal, mendorong pertumbuhan ekonomi regional.
Inisiatif ini lahir dari pakta keamanan AUKUS yang ditandatangani pada 2021 antara Australia, Amerika Serikat (AS), dan Inggris.
Melalui kesepakatan tersebut, AS berjanji menyuplai kapal selam serang kelas Virginia kepada Australia mulai dekade mendatang, sementara Inggris dan Australia akan berkolaborasi membangun kapal selam baru kelas AUKUS.
Saat ini, Australia masih kekurangan infrastruktur esensial untuk merawat kapal selam bertenaga nuklir, sehingga pengembangan Henderson menjadi prioritas utama.
Total nilai pakta AUKUS sendiri mencapai ratusan miliar dolar, menandai komitmen kuat ketiga negara untuk menangkal pengaruh ekspansif China di wilayah strategis tersebut.
Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles, menekankan peran krusial galangan kapal ini dalam kerangka AUKUS.
“Henderson adalah bagian penting dari cerita AUKUS. Karena itu, hal ini pasti disambut baik oleh AS maupun Inggris,” kata Marles dikutip Sky News.
“Namun pada dasarnya ini tentang apa yang harus dilakukan Australia untuk menjawab momen strategisnya,” tambahnya.
Marles juga membuka peluang bagi AS untuk memanfaatkan fasilitas Henderson di masa depan. “Fasilitas ini memang dibangun untuk menopang dan merawat kapal selam masa depan Australia, tapi jelas dibangun dalam konteks AUKUS. Saya perkirakan ke depan fasilitas ini juga bisa digunakan AS,” katanya kepada ABC.
Pernyataan ini menunjukkan potensi kolaborasi lebih dalam, terutama seiring dengan peninjauan resmi pakta AUKUS oleh pemerintahan Presiden Donald Trump di AS.
Proyek galangan kapal nuklir Australia ini menjadi sorotan global, mengingat implikasinya terhadap keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik.
Dengan investasi sebesar ini, Australia tidak hanya meningkatkan kapabilitas pertahanannya, tetapi juga memperkuat aliansi strategisnya.