CANBERRA, AUSTRALIA – Menteri Pertahanan Australia Richard Marles langsung menghubungi Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin untuk mencari kebenaran rumor Rusia tempatkan jet tempur di Pangkalan Udara Manuhua, Biak Numfor, Papua.
Namun, Kementerian Pertahanan RI sebelumnya menegaskan bahwa rumor tersebut sebagai informasi yang tidak valid.
Menurut laporan dari situs militer Amerika Serikat, Janes, Rusia disebut-sebut telah mengajukan permintaan resmi untuk mendaratkan pesawat tempur jarak jauh di pangkalan udara strategis di Papua. Lokasi ini hanya berjarak sekitar 1.300 kilometer dari Darwin, Australia, sehingga wajar jika Canberra merasa terusik.
Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong bahkan menyatakan pemerintahnya sedang berupaya mengonfirmasi kebenaran laporan tersebut.
“Kami mencoba memastikan apakah laporan ini akurat dan apa status permintaan Rusia,” ujar Wong.
Kemhan RI: Kabar Itu Tidak Benar
Kementerian Pertahanan RI buru-buru meredam spekulasi. Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang, Karo Info Pertahanan Setjen Kemhan, menegaskan bahwa kabar tersebut tidak memiliki dasar.
“Terkait pemberitaan tentang usulan penggunaan pangkalan Indonesia oleh Rusia, Kemhan mengklarifikasi bahwa berita tersebut tidak benar,” kata Frega, seperti dikutip pada Selasa (15/4/2025).
Frega juga menyoroti kerja sama yang sudah terjalin antara Indonesia dan Rusia, termasuk pertemuan antara Menhan Sjafrie dengan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia pada Februari lalu. Namun, ia menegaskan bahwa diskusi tersebut tidak pernah menyentuh soal penempatan pesawat militer.
Australia Khawatir, Oposisi Turut Bersuara
Di Australia, isu ini menjadi amunisi politik. Pemimpin oposisi Peter Dutton memanfaatkan rumor ini dalam kampanye pemilu, menuding pemerintah Perdana Menteri Anthony Albanese telah diberi tahu soal rencana Rusia namun tidak bertindak cepat. Wong menanggapi dengan menyebut Rusia sebagai “kekuatan disruptif” di bawah kepemimpinan Presiden Vladimir Putin, yang kerap memainkan peran provokatif di panggung global.
Menhan Australia Richard Marles, dalam pembicaraan telepon dengan Sjafrie, mendapat jaminan bahwa tidak ada rencana penempatan jet tempur Rusia di Papua. Marles mengaku lega, namun tetap waspada mengingat posisi strategis Biak Numfor di kawasan Pasifik.
Indonesia Fokus pada Diplomasi dan Stabilitas
Di tengah guncangan rumor ini, Indonesia menunjukkan sikap tenang. Selain membantah kabar tersebut, Kemhan menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas kawasan. Kerja sama dengan Rusia, menurut Frega, lebih berfokus pada latihan militer bersama seperti Orruda di Laut Jawa pada 2024, serta rencana pengiriman personel TNI untuk belajar di Rusia.
Sementara itu, hubungan Indonesia-Australia tetap menjadi prioritas. Kedua negara memiliki sejarah kerja sama pertahanan yang kuat, termasuk latihan bersama dan dialog strategis. Isu ini, meski sempat memanaskan situasi, tampaknya tidak akan mengganggu hubungan bilateral yang telah terjalin.
Rumor ini bukan sekadar isu militer, tetapi juga mencerminkan dinamika geopolitik yang sensitif di kawasan Indo-Pasifik. Papua, dengan posisinya yang strategis, kerap menjadi sorotan dalam peta kekuatan global. Ketegangan antara Rusia dan Barat, ditambah rivalitas di Pasifik, membuat setiap kabar seperti ini berpotensi memicu reaksi berantai.
Namun, dengan klarifikasi cepat dari Indonesia, spekulasi ini tampaknya akan mereda. Yang jelas, Jakarta menegaskan posisinya sebagai aktor netral yang tidak ingin terseret dalam konflik besar. Bagi Australia, komunikasi intensif dengan Indonesia menjadi kunci untuk menjaga keamanan di “halaman belakang” mereka.
Isu jet tempur Rusia di Papua memang sempat menghebohkan, tetapi bantahan tegas dari Indonesia dan dialog terbuka dengan Australia berhasil menurunkan tensi. Di tengah pusaran geopolitik, Indonesia sekali lagi menunjukkan diplomasi cerdas untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas kawasan.